Itinerary Jepang Selama 9 Hari di Musim Sakura (Plus Tips)

Shinjuku Gyoen

“Mama ingin lihat sakura mekar, Dek.” titah Emak saya suatu ketika.

Maka pergilah kami ke Jepang.

Ahzek… Kesannya gampang banget gitu ya. Hihihi. Padahal….

Saya dan Mama menghabiskan 9 hari di Jepang. Perjalanan ini mencakup kota-kota besar (atau terkenal) di Jepang yang cocok untuk first-timer. Hihihi.

 

Itinerary Jepang

***

 

Hari 1: OSAKA — KYOTO

Kami sampai di Osaka pagi tapi santai dulu kelilingan, foto-foto, dan sarapan di bandara sebelum mulai beranjak ke tengah kotanya. Sampai penginapan check in, istirahat sebentar, lalu kami jalan kaki ke JR Station dekat penginapan untuk naik JR Train ke Kyoto.

TIPS #1:
Saat memilih penginapan, pilihlah penginapan yang dekat stasiun. Kalau penginapannya dekat stasiun biasa, maka transportasi yang digunakan, usahakan kereta reguler semua. Kalau penginapannya dekat dengan stasiun JR, usahakan semua kereta yang digunakan adalah kereta JR.

Kalau penginapan jauh dari stasiun, perjalanan ke stasiunnya PR banget (apalagi kalau bawa koper yekan). Kalau seringnya naik kereta JR tapi penginapannya dekat dengan stasiun kereta biasa, ya untuk menuju stasiun JR-nya harus naik kereta biasa dan bayar lagi huks, transportasi di Jepang nggak murah-murah banget lho.

Sampai di Kyoto kami mengantre untuk naik bus #28 menuju Arashiyama. Ke Arashiyama ngapain lagi kalau bukan untuk melihat: bambu! Hihihi. Perjalanan bus dari Stasiun Kyoto ke Arashiyama memakan waktu 1 jam, lumayan lama huhu, tapi pas sampai, happy banget melihat sakura bermekaran di taman dekat perhentian busnya akhirnya nggak jadi mengejar melihat bambu! Hahaha. Kami main-main saja di Arashiyama Nakanoshima Park sampai sore. Sempat terpikir untuk tetap melihat hutan bambu tapi Mama sudah capek akhirnya putar balik, ndak jadi, pulang saja balik ke Osaka. Hihihi.

Tips #2:
Kalau berkunjung ke Jepang pas musim ramai (pas musim sakura/pas akhir tahun) pesan penginapan jauh jauh jauh bulan. Saya melakukan kesalahan dengan tidak memesan penginapan di Kyoto jauh bulan dan saat saya mau pesan, penginapan yang cukup baik dengan harga (cukup) masuk akal di Kyoto sudah full semua. Jadilah kami menginap di Osaka dan ngelaju ke Kyoto setiap hari. It’s doable sih (well, we did it gitu), tapi capek dan abis waktu di jalan.

Parkir Sepeda

Itinerary Jepang ke Arashiyama Park
Arashiyama Park

 

Hari 2: OSAKA — KYOTO

Kami ngelaju ke Kyoto lagi. Kali ini, sampai di Stasiun Kyoto, kami menyeberang jalan untuk naik Kyoto Tower. Sayangnya, waktu itu hujan rintik-rintik jadi pemandangan dari atas Kyoto Tower kurang cerah terlihat semua gitu. Hiks.

Tips #3:
Ini berlaku untuk jalan-jalan ke negara 4 musim – semua negara: selalu cek ramalan cuaca! Bisa cek di Accuweather atau Weather di ponsel (yang terhubung ke Accuweather juga sih wkwk). Saya nggak cek cuaca saat ke Jepang jadi ya gitu deh, sering banget suram saat jalan-jalan. Rindu langit biru aqutu dalam perjalanan ke Jepang kali ini. Hihihi.

Selesai menikmati kesuraman pemandangan dari Kyoto Tower, kami lanjut naik subway dan bus untuk mengunjungi Kinkakuji dan Ginkakuji Temple. Dalam perjalanan ke kuil kedua, kami turun bus sedikit lebih jauh untuk bisa jalan kaki menikmati Philosopher’s Path dulu. Philosopher’s Path ini sebenarnya hanya sungai dengan dua jalan di sisinya. Yang membuat Philosopher’s Path ini menarik adalah karena pohon sakura yang padat mengisi sisi kiri dan kanannya sehingga pas musim sakura begini, adududu, cantik nian pemandangannya.

Setelah dari Ginkakuji Temple, kami lanjut lagi ke Kiyomizudera (yang, mohon maaf, penuh banget anjay wkwk). Hari ditutup dengan kenikmatan menyesap jus jeruk dari buahnya langsung sambil duduk-duduk di taman melihat muda-mudi Jepang berduaan.

Kyoto Tower
Kyoto Tower
Itinerary Jepang Kinkakuji Temple Kyoto
Kinkakuji Temple Kyoto
Itinerary Jepang melihat Sakura
Philosopher’s Path Kyoto

 

Hari 3: OSAKA

AKHIRNYA LANGIT CERAH!! Yeehaaa.. Setelah didera kesuraman selama dua hari, birunya langit pagi itu bikin semangat jalan-jalan muncul kembali. Di hari ketiga ini, kami keliling Osaka.

Dimulai dengan mengunjungi Shitennoji Temple yang ternyata sedang direnovasi (yha~) hihihi. Kuilnya pada ditutup gitu fasadnya, jadi benaran nggak bisa kelihatan apa-apa. Akhirnya kami  lihat kura-kura yang sedang berjemur di kolam-kolam sekitar kuilnya saja. Hihihi.

Di komplek kuil Shitennoji ini juga ada area makam yang cukup menarik. Tampilannya nggak kayak makam gitu, kayak area luas berbatu dengan batu-batu hitam berdiri yang ternyata nisan. Kami jadinya malah berkeliling makam, menikmati sinar matahari yang terasa hangat.

Setelah selesai berkeliling makam, kami mengunjungi Osaka Castle yang gede amat ini areanya huhuhu betisku cekot cekot rasanya hahaha. Di area Osaka Castle nggak cuma ada istananya aja tapi juga ada danau yang cantik, parit yang gagah, serta taman yang jembar.

(((JEMBAR)))

Oh ya, di hari ketiga ini, kami pindah penginapan – walaupun sama-sama di Osaka. Hihihi. Penginapan kami sebelumnya dekat sekali dengan JR Station tapi nggak ada kamar double so yes, saya dan Mama masing-masing menginap di kamar sendiri-sendiri saat di sana. Wkwkwk.

Nah penginapan yang kami masuki di hari ini tu mini apartment gitu. Selain ruang tidur, juga ada ruang tamu, dapur, dan kamar mandi. Lokasi peginapan kedua ini nggak terlalu dekat ke stasiun tapi saya pikir nggak apa lah, toh kami jalan santai di sekitaran Osaka saja saat menginap di apartemen ini.

Tips #4:
Kalau menginap sekeluarga dan atau bawa anak kecil, saya rasa menginap di mini apartment adalah pilihan yang tepat. Reservasi properti berbentuk mini apartment bisa via Booking, Agoda, atau AirBnB.

Makam Shitennoji Temple
Makam Shitennoji Temple
Kura-kura Shitennoji Temple
Kura-kura Shitennoji Temple
Itinerary Jepang Osaka Castle
Osaka Castle

 

Hari 4: OSAKA

Hari dimulai dengan mengunjungi Umeda Sky Garden Observatory (yang ternyata nggak ada ‘garden’nya juga gidu di dalamnya) untuk melihat pemandangan Osaka dari atas. Ini lucu banget lho pas naik ke observatorium ini kan menumpang elevator. Elevatornya ditutup kaca transparan di kanan kiri atas bawah serta bagian belakang elevator ini langsung menjorok ke pemandangan luas tanpa tertutup bangunan. Awalnya masih santai, ngobrol dan terpukau melihat angka meteran yang bergerak cepat di display elevator. Semakin tinggi tinggi dan tinggi lho lho lho kok rasa-rasa agak ndhredheg ya. Hahaha. Asli itu kayak naik roller coaster tapi posisinya berdiri dan tanpa sabuk pengaman. Mana di dalam elevator cuma ada saya dan Mama lagi. Pas sudah sampai di atas dan pintu terbuka, angin dingin langsung menampar wajah dan rasanya jadi kayak melayang ya ampun melangkahkan kaki keluar elevator saja gemetaran kami tu, Rencang-rencang!! Hahaha.

Keluar elevator kami jongkok dulu berduaan nahan pipis dan ketawa karena baru kali ini kami ketakutan naik ke gedung tinggi sampai ndhredheg banget. WKWKWK!

Lumayan lama kami di Umeda Sky Garden Observatory (ya naiknya saja perjuangan gitu ya masa mau cepat-cepat turun sih?!) dan setelah puas, baru deh turun lalu lanjut ke Amerikamura.

Amerikamura ni sebuah area di Osaka dengan butik-butik berisi barang-barang brand luar. Harapan saya tinggi banget sama area ini tapi ternyata, walaupun ada beberapa butik kecil menjual barang made in USA yang nggak branded pun, Amerikamura nggak mura juga. :)) Sweater biasa banget gitu yang di Korea Selatan harganya 200 ribuan (rupiah), di Amerikamura minimal banget 400 ribu. Sedih kan.

Karena sedih, kami memutuskan beli sushi bento dan jus di mall seberang Osaka Castle lalu jalan ke taman di Osaka Castle untuk hanamian saja!! HAHAHA.

Tips #5:
Kalau rencana ke Jepang adalah untuk hanami, bawa tikar tipis dari Indonesia deh. Di Jepang, tikar yang bisa dilipat kecil gitu harganya lumayan mahal. Hahaha.

Osaka from the top
Osaka from the top

 

Hari 5: KYOTO

Hari ini rencananya masih mau keliling Osaka tapi ternyata baik saya maupun Mama nggak begitu suka di Osaka jadi Mama kasih ide, bagaimana kalau ke Kyoto lagi saja? Saya YA TENTU SAJA SETUJU. Hihihi.

Akhirnya kami mengunjungi Arashiyama Bamboo Grove!

Mama, “Di sini pring-pringan aja jadi daya tarik ya, Dek. Tapi emang pring-pringannya beda sih, besar-besar nggak berbulu. Coba di Indonesia pring-pringannya dijadiin rapi gini ya. Bisa untuk daya tarik wisata.”

Monmaap kalau di Indonesia, yang tertarik siapa dulu?
Manusia apa makhluk tak kasat mata?
>.<

Setelah dari taman pring-pringan di Arashiyama, kami lanjut naik subway ke Inari Station untuk berkunjung ke kuil musang (eh apa serigala?!) – Fushimi Inari Taisha. Saya suka kuil ini! Apalagi saat mblusuk masuk hingga ke bagian atas dan belakangnya. Duh duh duh mata segar, hati senang, pikiran tenang menyatu dengan alam.

Tips #6:
Siapkan waktu lebih untuk berkeliling Fushimi Inari Taisha. Senbon Torii berada tak jauh dari tangga-tangga awal masuk kuil tapi kalau mau berfoto dengan senbon torii yang lebih sepi pengunjung, masuk dan eksplor bagian dalam dan belakang kuil ini. Niscaya kau akan menemukan banyak senbon torii yang sepi berkidung suasana yang menenangkan jiwa. HAZEK.

Senbon Torii
Senbon Torii
Ricecake Jepang
Ricecake Jepang

 

Hari 6: TOKYO

Hari ini kami berpindah ke Tokyo!!

Mencoba mencari pilihan lebih murah dari Shinkansen untuk berpindah dari Osaka ke Tokyo, pilihan pun saya jatuhkan ke Willer Bus.

*kemudian di akhir perjalanan, Mama baru bilang kalau Mama ingin sekali coba naik Shinkansen yak okbye kenapa kemarin-kemarin nggak bilaaaaang -_____-/

Jam 6 pagi, kami dijemput taksi kemudian diantar ke Umeda Willer Bus Station. Perjalanan Willer Bus dari Osaka ke Tokyo menghabiskan waktu 7 jam – bandingkan dengan perjalanan Shinkansen yang hanya 2 jam – hihihi. Perjalanannya cukup nyaman kecuali bagian nggak ada istirahat panjangnya jadi nggak bisa makan juga pas berhenti di restoran, cuma bisa ke toilet saja untung toiletnya bersih serta instagrammable. YHA~

Sesampainya di Tokyo, kami langsung menuju hotel kami di dekat Akasaka Mitsuke Station dan setelah check in, kami langsung menikmati fasilitas hotel favorit saya yang mampu membuat saya berpikir dua kali untuk merajah tubuh: ONSEN!!

Ada dua kolam onsen di hotel yang kami inapi ini, satu kolam air panas biasa dan satu lagi kolam air berkarbonasi (berasa mandi soda blubuk-blubuk gitu airnya hihi).

Tips #7:
CARI HOTEL YANG ADA FASILITAS ONSEN GRATISNYA PLIS LAH THANK ME LATER.

Taksi Jepang
Taksi Jepang
Willer Bus
Willer Bus
Toilet Rest Area
Toilet Rest Area

 

Hari 7: TOKYO

Perhentian pertama: TSUKIJI Fish Market!! Pasar ikan yang sudah sangat tua serta terkenal ini sudah tutup beroperasi tapi masih banyak toko pengolahan ikan di bagian luar pasar yang buka. Kebanyakan menjual sashimi fresh dengan harga yang membuat saya memandang sinis harga-harga di restoran TEI di mall-mall di Jakarta. HAHAHA.

Saya dan Mama makan sushi, beli juhi, makan tamago, juga ichigo di pasar ini. (Perut) kami senang banget di Tsukiji Fish Market ini.

Perjalanan dilanjutkan ke Akihabara karena saya mau lihat-lihat kamera yang konon katanya lebih murah beli di Jepang dibanding di Indonesia. Tapi ternyata…

Ya lebih murah sih tapi nggak signifikan juga gitu bedanya jadi sudalah beli di Indonesia saja. Hahaha. Nggak dapat kamera, saya malah dapat mobil-mobilan kecil-kecil yang dulu Abang saya suka banget: TAKARA TOMY!!

Selesai dari Akihabara, kami lanjut ke Nakamise Shopping Street untuk apa lagi kalau bukan Ibu Kitumi beli oleh-oleh bagi teman serta koleganya. Hihihi.

Ichigo di Tsukiji
Ichigo di Tsukiji

 

Hari 8: FUJISAN — KAWAGUCHIKO

Di hari ke-8 dalam itinerary Jepang yang sudah saya susun sebelumnya, kami main seharian di Kawaguchiko! It was a funny yet overwhelming (in a good way) day trip. Hujan deras banget plus badai dari pas kami sampai di Kawaguchiko Station. Kami cuma punya 1 payung dan kami harus jalan kaki ke Kachi Kachi Yama Ropeway untuk naik cable car ke atas demi melihat Gunung Fuji. Perjalanan ke Kachi Kachi Yama Ropeway yang harusnya hanya 15 menit kami tempuh dalam 30 menit!! Ya bagaimana nggak lebih lama, menerjang hujan angin gituuu. Wkwkwk. Sepatu basah, tights kuyup, baju lengan panjang pun basah dan kami berdua kedinginan tapi kami ketawaaaaa saja sepanjang jalan.

People might think we’re romantic karena kami pelukan sepanjang jalan. Mereka nggak tahu saja berpelukan tu demi membantu kami tetap hangat di tengah udara yang astagfirullah dingin berangin gitu. Hahaha. Mana sampai terminal atas kami nggak bisa lihat apa-apa lagi. Semuanya putih, Rencang-rencang!! Hahaha.

Kachi Kachi Yama Ropeway
Kachi Kachi Yama Ropeway

Kawaguchiko

 

Hari 9 (EXTRA):

Ini hari terakhir yang tak terencana.

Karena apa?

Karena saya salah baca jadwal di tiket kepulangan kami. HAHAHA.

Just for the record, I hate when airlines put 11.45 followed by a super small ‘pm’ on the ticket, I mean, Y’ALL, when you want to use the AM/PM system, at least make the PM bigger so I don’t misread!

Saya kira kami pulang pukul 11.45 jadi saya nggak bikin rencana apa-apa hari itu lha jebul kami pulang jam 23.45, Rencang-rencang!! WKWK. Jadi setelah check out dan menitipkan koper di penginapan, kami pergi lah ke Shinjuku-gyoen!

Shinjuku-gyoen ni kayaknya taman paling favorit di Tokyo bagi saya. Luas sekali, cantik, banyak area berbeda, dan pengalaman ke sana selalu menyenangkan. Kami hanami lagi dan setelah puas, kami kembali ke NAKAMISE Shopping Street hahaha. Kali ini kami jalan sampai ke bagian belakang banget di mana saya melihat Reebok High Sneakers lagi sale tapi saya nggak beli (namun kepikiran hingga kini). Hahaha. Rasain!!

Tips #8:
Baca: Tips Menghemat Biaya Liburan ke Jepang

Begitulah itinerary Jepang kami ditutup dengan manis. Kami jalan ke stasiun sambil bercanda dan ketawa-ketawa ngobrolin semua kejadian tak terduga dan momen-momen bodoh namun lucu yang terjadi. It was not the brightest trip, for sure, but it was defo a memorable one. Mama masih ingin kembali; untuk naik Shinkansen dan melihat Gunung Fuji, katanya.

Saya? Setelah dua kali ke Jepang, belum kepikiran ingin ke sana lagi. Hahaha.

Senyum dulu ah.. 🙂

Shinjuku Gyoen
Shinjuku Gyoen

Related Posts

11 Responses
  1. Puput

    Akhirnya dia nulis lagi! Seperti biasa, tulisannya selalu fresh, seru, dan menyentuh. Membawa aku sbg pembaca ikut terbawa di dalamnya. Pluus fotonya bagus-baguus. Super laff! Terus nulis ya. #jangankasihkendor #semangatmbakbulan

  2. *tepuk tangan di atas kepala* *jingkrak-jingkrak*
    Aku suka foto langit dan sungai itu, kak Bul. Sungainya jernih, langitnya biru dengan rona jingga yg samar, terus gedung pencakar langit itu jadi latar foto yang kontras!
    Untung ngira jam 23:45 pagi ya. Kalau harusnya jam 11:45 AM tapi kamu malah pulang jam 11:45, itu baru nyesek. Hahaha

  3. Oh jadi foto mamang itu semacam tanda di blognya kak bulan ini ya 😀
    Foto2nya ciamik bener (lalu aku tercekat di foto makanan), astagfirullah masih pagi, buka puasa masih lama.

Leave a Reply