Jalan-jalan ke Chiang Rai Thailand

White Temple Chiang Rai Thailand

“Hmmm.. Ke mana lagi ya?”, saya bertanya ke diri sendiri setelah menghabiskan dua hari jalan-jalan di Chiang Rai.

Berbeda dengan kota saudaranya, Chiang Mai, yang punya banyak tempat wisata menarik hati, Chiang Rai ni lebih kalem tenang koyo raono opo-opo ngono, Rencang-rencang.. Hihihi..

Kalau Googling tempat wisata di Chiang Rai, hasil yang keluar hanya sedikit dan itu-itu saja, jadi di akhir hari kedua ketika yang ‘itu-itu saja’ sudah saya kunjungi semua, saya bingung, mau ke mana lagi ya? Wkwkwk.

Kalau gitu, worthy nggak jalan ke Chiang Rai?

Well, baca tulisan ini sampai habis ya untuk tahu jawabannya. Jangan berhenti di tengah. Ngalangin jalan.

 

Perjalanan dari Chiang Mai ke Chiang Rai

Untuk menuju Chiang Rai dari Chiang Mai, ada beberapa opsi moda transportasi: bus, taksi, sewa mobil, atau sewa motor. Saya memilih opsi pertama: bus.

Operator bus yang saya pilih adalah GreenBus. Beli tiketnya online via 12go.asia dan (sedihnya) tiket harus dicetak, nggak bisa pakai mobile voucher.

Yang agak membingungkan, ketika dulu saya cek jadwal kepergian yang saya inginkan, hanya ada tiga jadwal: 07.15, 10.45, dan 17.30 (kalau tidak salah). Barusan saya cek lagi (riset saat menulis post ini) eh lha kok ada empat belas jadwal?!

EMPAT BELAS, RENCANG-RENCANG!

Ga main-main banget nambahnya! Hahaha.

Mungkin pas saya jalan ke Chiang Mai—Chiang Rai itu low season kali ya (awal Juli) dan sekarang sudah masuk regular season atau malah high season jadilah frekuensi jalan busnya dibanyakin.

Bus datang tepat waktu tapi berangkat sedikit molor sekitar 10 menit. Bus yang saya naiki ini kelas Express, formasi kursinya 2-2. Ada satu kelas lagi dari GreenBus yaitu VIP, formasi kursinya 2-1. Saya suka sekali formasi kursi seperti ini dan selalu minta di kursi yang deret 1. Hehe. Semacam me time kalau duduk di kursi deret 1 di bus besar gitu. Tinggal pakai earphone, dengar musik atau podcast, memandang ke luar jendela, dan jadi anti sosial sekejap.

Sedaaaap..

Sayangnya, tiga jadwal yang tersedia saat saya mau pergi itu semuanya kelas Express, nggak ada VIP, jadi ya sudah, berlega hati lah Adik berbagi kursi. Toh lebih baik berbagi kursi daripada berbagi suami.

E MONMAAP BAGAIMANA?!

GreenBus Express Chiang Mai ke Chiang Rai
GreenBus Kelas Express tujuan Chiang Rai

Seat format aside, kelas Express-nya GreenBus ini sudah oke banget kok. Dingin, bersih, kursinya bisa recline, dapat minum satu botol kecil (not that it matters), dan ada toilet onboard. Supir pun menyetirnya cukup aman. Kalau dibandingin bus malam Jogja—Jakarta. Wkwkwk

Pemandangan sepanjang perjalanan cukup menyenangkan, sempat melewati hutan memecah gunung membelah lautan mengarungi samudera. Saya sudah siap bekal kudapan karena perjalanan yang tiga jam ini tanpa berhenti.

Untuk yang nggak bisa kelaparan atau nggak bisa telat makan kayak saya mending siap bekal. Kalau mau makan dulu sebelum berangkat, di Terminal 3 Chiang Mai pun ada warung makan (yang nampaknya sedap).

Terminal 3 Chiang Mai
Terminal 3 Chiang Mai

 

Tempat Wisata di Chiang Rai yang Wajib Kunjung

  1. Blue Temple

    I dropped my jaw when I saw Blue Temple from afar. Striking blue (yknow, like Krishna Blue), it looks somehow, beautiful.

    Saya nggak mengira sebelumnya warna biru pekat untuk sebuah bangunan—apalagi dikombinasikan dengan warna emas mengkilat—bisa terlihat begitu cantik dan menguarkan aura mengagumkan.

    Aula dalam Blue Temple pun tidak kalah mengesankan. Warnanya full biru dengan detil yang rumit di bagian eternitnya, keseluruhan ruang aula membawa suasana tenang. Saya menghabiskan hampir satu jam cuma duduk doang, diam, di aula dalam.

    Wat Rong Seur Ten Blue Temple Chiang Rai
    Blue Temple Chiang Rai

    INSIGHT:
    Kalau ke kuil ini, jangan lupa juga beli es krim kelapa di toko di sisi kiri kuil. Cantik sekali presentasi es krimnya dan rasanya pun maknyusss pas dinikmati di panasnya Chiang Rai. Harganya THB40 sahaja.

    Es Krim Kelapa di Blue Temple Chiang Rai
    Es Krim Kelapa di Blue Temple Chiang Rai
  2. White Temple

    Kalau klik ‘Chiang Rai Tourism’ di Google, saya yakin White Temple ini yang pertama muncul. White Temple memang se-HITS itu, apalagi di kalangan anak-anak Instagram. Hihihi.

    White Temple Chiang Rai Thailand

    Jadi apakah memang sebagus itu kuil ini?

    Iya, luarnya sebagus itu! White Temple ini menurut saya lebih ke hasil karya seni alih-alih kuil. Desain luarnya njelimet dan deep sekali artinya (or at least, begitulah interpretasi saya saat melihatnya).

    In contrast, aula dalam dan altar di White Temple terlihat biasa banget. Benar-benar biasa banget mbingungi kayak dari luar udah WHOAAAAA LUV LUV trus masuk yang EH?! BEGINI AJA? Gitu… Hehehe.

    Itu ekspresi sama banget seperti ketika saya baru mulai mengenal dia dan saat saya mulai mengetahui lebih banyak tentang dirinya.

    Whoaaaa luv luv – EH?! Begini aja?!

    NEXT!

    Jalan-jalan ke Chiang Rai White Temple

    White Temple ada di sebuah kompleks yang cukup luas. Di sekeliling kuil utama White Temple ini banyak bangunan-bangunan lain hasil karya seniman yang sama. Bangunan-bangunan ini sama memukaunya. Bahkan, di sebelah kanan kuil utama ada bangunan megah berwarna emas mentereng yang terlihat layak menjadi tempat peristirahatan tamu-tamu kerajaan but lo and behold, bangunan ini adalah sebuah…. TOILET..

    Bhaique..

  3. Give Green Farm House Restaurant

    Tahu restoran ini dari resepsionis hostel dan saya suka banget Give Green Farm House Restaurant ini jadi layak dimasukkan ke ‘wajib kunjung’! Hehehe.

    Berada di area yang cukup luas, di Give Green Farm House Restaurant ada kolam ikan yang besar banget di depan, dapur terbuka yang menyambung ke tempat makan yang terlihat sederhana, dan di belakang tempat makan adalah berpetak-petak tanah tempat mereka menanam berbagai sayuran dan buah. Di sebelah petak tanah ini juga ada ayam dan bebek dalam kurungan. Hihihi.

    Give Green Farm House Restaurant Chiang Rai
    Give Green Farm House Restaurant

    Pilihan menunya banyak banget, selamat pusing kalau Anda adalah orang yang suka lama memilih menu saat mau makan please kita jangan temenan dan bisa customized. Saya pesan satu masakan utama dan ingin tumis sayuran hijau (yang nggak ada di menu) sebagai pendamping.

    Olahan Makanan di Give Green Restaurant Chiang Rai
    Olahan Makanan di Give Green Restaurant

    Saya tulis saja mau Chinese Kale ditumis pakai bawang putih. Ibu pemilik restoran ini menyanggupi pesanan customized saya dan beranjak ke tanah petak belakang tebak untuk apa? YAP!! Untuk memetik Chinese Kale pesanan saya! Wa sungguh mancing mania sekali kan!!

    MANTHAP!!

  4. Saturday Walking Street Bazaar

    Di hari Sabtu mulai sekitar pukul 17.00, jalan di tengah kota ditutup. Nggak tanggung-tanggung yang ditutup ada kali empat blok!

    Jalan ditutup untuk kendaraan bermesin dan di sepanjang jalan yang ditutup ini dibangunlah tenda-tenda putih saling bersisian.

    Tenda putih ya. Karena kalau tendanya biru, Dessy Ratnasari dooong. EAAAAAA.. Maap..

    Inilah Saturday Walking Street Bazaar.

    Apa saja yang dijual di Saturday Walking Street Bazaar? Banyak banget mulai dari selai, sushi, manisan, baju, sepatu, kaktus, bantal, kerajinan tangan, casing HP, botol minum, hingga tentu saja…. JASA THAI MASSAGE! Hahahaha.

    Saturday Walking Street Bazaar Chiang Rai
    Saturday Walking Street Bazaar

    Saturday Night Bazaar Chiang Rai

    Saya suka Saturday Walking Street Bazaar karena pasar ini kayak pasar lokal banget. Turis nggak banyak yang ke pasar ini (mungkin karena nggak banyak yang berpikir menghabiskan akhir pekan di Chiang Rai) dan rasa makanannya masih Thailand banget dengan harga yang juga masih Thailand banget. Kurang asyik apa coba?! Hehehe.

Menurut saya, yang wajib kunjung di Chiang Rai ya empat itu saja. Sedikit ya. Tapi jangan sedih usah kau lara sendiri karena di bawah ini saya kasih beberapa opsi tempat lainnya yang mungkin cocok untuk dikunjungi juga.

  1. Por Jai Restaurant

    Digadang-gadang sebagai restoran yang menjual Khao Soi terenak, saya sampai datang ke tempat ini dua kali demi mencoba khao soi yang berbeda jenis. Khao Soi adalah masakan berkuah dengan isian cut rice noodles (gimana sih bahasa Indonesiainnya? Bihun potong?!), tauge, dan daging pilihan. Pilihan dagingnya ada ikan, ayam, udang, dan babi. Saya mencoba dua jenis daging di khao soi yang saya pesan di Por Jai ini.

    Seenak itu? Well, menurut saya: ENAK, tapi nggak SEENAK ITU.

    Khao Soi Por Jai Restaurant

    Kenapa saya bisa bilang ‘enak tapi nggak seenak itu’? Mungkin pengaruh pengalaman saya makan masakan ini pertama kali di Yangon, Myanmar dan itu ENAK BANGET jadi saya membandingkan keduanya. 🙁 Tapi untuk yang belum pernah makan khao soi, saya rekomendasikan Por Jai Restaurant ini.

  2. Makan di Chiang Rai Night Bazaar

    Banyak yang memasukkan Chiang Rai Night Bazaar sebagai pasar malam wajib kunjung untuk shopping but believe me, kalau sudah ke Saturday Walking Street Bazaar, Chiang Rai Night Bazaar is nothing!

    Wkwkwk.

    Tapi datang saja ke Chiang Rai Night Bazaar untuk makan! Ada satu area luas terbuka di bagian belakang pasar malam dengan kios-kios kecil berjajar di tiga sisinya dan panggung terbuka di sisi lainnya. Area ini memang khusus area makan, mulai dari Tom Yam Gung sampai gorengan Spring Roll cocol sambal ala Thailand ada semua di sini.

  3. Singha Park

    Bingung mau ke mana setelah atau sebelum dari White Temple? Ke Singha Park saja.

    Singha Park dimiliki oleh Boon Rawd Brewery, perusahaan yang memproduksi Singha Beer tapi sayangnya di Singha Park ini nggak ada tu tempat belajar bikin beer atau kayak lab di mana kita bisa lihat proses produksi beer gitu. Padahal kalau ada, akan jadi sangat menarik ya. Hehehe.

    Apa saja yang bisa dilakukan di Singha Park? Banyak! Bisa ziplining, meracik teh sendiri, memetik strawberry, memberi makan ikan dan angsa, foto-foto, sayang-sayang kuda pony, atau sesederhana duduk-duduk saja taman yang begitu luas ini.

    Singha Park Chiang Rai
    Singha Park Chiang Rai

    Untuk berkeliling Singha Park, ada dua pilihan moda. Naik mobil shuttle atau naik sepeda. Kalau bisa naik sepeda, menurut saya, mending sewa sepeda untuk berkeliling sendiri. Saya naik mobil shuttle kemarin dan merasakan kurang waktu untuk menikmati tamannya karena di setiap perhentian hanya dikasih waktu 10 menit. Tapi kalau lagi buru-buru dan tetap ingin main ke Singha Park, naik mobil shuttle adalah pilihan bijak. Keliling empat zona di Singha Park hanya 50-55 menit sahaja. Cepat kan.

  4. BaanDam Museum

    Banyak yang memasukkan museum ini di daftar wajib kunjung but lemme put a warning sign here, this museum is not for everyone!

    BaanDam Museum Chiang Rai
    BaanDam Museum Chiang Rai

    Memasuki museum ini dan melihat isi rumah hitamnya satu per satu, perut saya mual sekali. Tengkorak binatang, tanduk kerbau, bulu/kulit binatang (bahkan ada bulu/kulit beruang!) mengisi ruang.

    Artistik kah? Iya.

    Tapi kayak seni yang ‘gelap’ gitu. Saya nggak bisa berhenti memikirkan nasib binatang-binatang yang bagian-bagian tubuhnya dipertunjukkan dalam museum ini sampai saya keluar museum, I felt so uneasy.

    Inside BaanDam Museum Chiang Rai
    Kalau suka seni yang ‘gelap’ dan hal ihwal kematian yang diangkat menjadi sebuah karya seni, BaanDam Museum is certainly for you. For the faint-hearted, jauh-jauh dari The Black House ini.

  5. Makan es krim nostalgia di Swensens

    Swensens itu merk es krim nostalgia untuk saya. Dulu saat masih kecil dan tinggal di Kelapa Gading, saya merasa orang yang makan es krim di Swensens tu pasti orang berpunya. Es krim mahal! Saya nggak bisa makan. Hihihi.

    Nah sekarang ketika alhamdulillah saya sudah menyandang gelar Crazy Rich Prawirotaman *HOKYA* dan mampu beli es krim Swensens, eh Swensensnya sudah nggak ada di Indonesia dong. Wkwkwk

    Es Krim Swensens
    Jadilah kalau ke luar negeri lihat Swensens, bisa dipastikan, saya selalu ingin mampir, merasakan ‘jadi orang kaya’ dalam bayangan saya ketika berusia 4-5 tahun. Hehehe. Saya pernah makan Swensens di Myanmar (kalau nggak salah), bernostalgia berdua Mama. Eh kemarin lihat di Chiang Rai, ya tentu saya hampiri. Banana Split aman masuk ke peyut ini. Hihihi.

Jadi, Chiang Rai ni worthy untuk dikunjungi nggak?

Worthy dong. Tapi nggak usah lama-lama sih, menurut saya, dua hari saja sudah cukup kalau untuk jalan-jalan santai. Pilihan lainnya, ambil one-day-tour dari Chiang Mai, berangkat pagi pulang malam sudah diajak ke banyak tempat di Chiang Rai.

Segitu dululah ya tulisan saya tentang Chiang Rai. Dari yang saya sebutkan dan post fotonya di atas, mana nih yang menarik hati kalian, Rencang-rencang? White Temple, Blue Temple, Singha Park, atau saya? EAAAA.. Sini ke Jogja!! Uwuwuw..

Senyum dulu ah.. 🙂

Related Posts

4 Responses
  1. Aih eskrimnya matching sama blue templenya. Eh yang kena gempa dulu yang Chiang Rai apa Chiang Mai yak, yang kuilnya rusak.
    Betewe itu beneran daging buaya? Penasaran gimana rasanya 😀

    1. Iya beneran daging buaya huhu. Di Chiang Rai ada beberapa peternakan buaya pun kayaknya pernah baca-baca. Di Baandam Museum juga ada kulit buaya lengkap sampai kepalanya yang diawetin. :/ Kalau gempa yang dulu banget, Chiang Mai kayaknya. Yang nyebabin Wat Chedi Luang hilang 20 meteran bagian atasnya. Kalau yang baru-baru gempa, aku nggak tahu. Ada gempa ya di Thailand baru-baru ini?

Leave a Reply