Liburan Bersama Anak di Bali

Liburan Bersama Anak di Bali

Sebelum ada Key dan Ken—keponakan—saya nggak pernah terpikir liburan bersama anak itu ternyata butuh pemikiran tambahan saat perencanaannya. Harus memperhitungkan tingkat bosan di jalan untuk anak usia balita dan batita. Harus memperhitungkan pula waktu tempuh dari satu destinasi ke destinasi berikutnya, dan harus memperhitungkan cuaca.

Selain itu, harus mencari alternatif tujuan wisata anak selain yang sudah direncanakan karena kita tidak pernah tahu kapan anak tiga tahun akan berkali-kali berujar,

“Jauh banget ti Aunty, belum tampe juga nih? Key tapek mau ke otel ajah.”

HYAAA.. Wkwkwk..

***

Saat kami liburan ke Bali sekeluarga, tujuan wisata di bawah inilah yang akhirnya berhasil kami kunjungi. Kenapa saya tuliskan ‘berhasil’ dengan cetak tebal? Karena tujuan wisata lain yang sudah saya masukkan rencana perjalanan buyar begitu saja dikarenakan waktu atau jarak yang tidak memungkinkan. Hahaha.

Dari yang sudah kami kunjungi, ada yang saya rasa pas sebagai tujuan wisata liburan bersama anak di Bali, ada yang tidak.

  • Bermain watersport di Tanjung Benoa

    This one is oldie but goodie. Kalau anaknya suka main air dan lonjak-lonjak bahagia kalau melihat pantai atau laut, ajak saja ke Tanjung Benoa! Banyak pilihan olahraga air tersedia, dari mulai jetski hingga flying fish dan flyboarding.

    Jangan lupa sebelum memainkan olahraga air apapun, anak dikondisikan dengan air laut dulu ya. Juga jangan lupa pemanasan, stretching-stretching cantik gitu.

    Liburan ke Bali — Watersport di Tanjung Benoa
    Watersport di Tanjung Benoa

    Saya, yang adalah tumbal keluarga untuk urusan main di alam, ajak Key melintas pasir yang agak panas dengan cepat sebelum akhirnya menceburkan diri ke air laut. Sebelumnya kami sudah pemanasan dulu di pondokan pinggir pantai. Masuk ke air laut, Key diam dulu merasakan airnya (antara diam atau saya curiga dia pipis sih), kemudian tidur-tiduran bersama pelampungnya, merasakan ombak kecil menyapu tubuhnya, dan juga (nggak sengaja) minum air laut untuk merasakan asinnya pas dia jatuh terbawa ombak kecil tadi. Hihihi. Main air begitu saja dia sudah bahagia.

    Setelah main air beberapa menit, mata dia mulai melihat ke arah jetski. Maka naik ke atas jetski lah kami.

    Kami naik bertiga. Key di depan, lalu saya yang mengemudikan jetski, dan satu abang di belakang untuk jagain kami. Mengemudikan jetski sambil bawa anak usia tiga tahun itu ternyata tidak mudah.

    Awalnya saya mengemudikan seperti biasa tapi kira-kira tiga menit jalan, saya baru sadar kepala Key donggleng-donggleng gitu saat jetski melibas ombak dan dibawa dalam keadaan kencang. Ada kemungkinan kepala dia bisa terantuk kemudi karena tangan dia belum cukup kuat untuk menahan kepalanya biar tegak diterpa angin dan ombak.

    Saya sempat panik. Saya kira dia sudah terantuk. Kalau benjol atau mimisan, habis lah sudah angan-angan liburan akhir pekan yang menyenangkan di Bali. Bisa-bisa semua langsung digeret kembali ke hotel dan disuruh tinggal di hotel saja nggak boleh keluar kamar sama mama. 🙁

    Liburan bersama anak — Naik Jetski di Tanjung Benoa
    Main Jetski bareng anak di Tanjung Benoa

    Saya tanya apa dia terantuk kemudi? Dia bilang nggak. Dan untungnya nggak ada tanda benjol atau mimisan juga. Tapi untuk tindakan preventif, saya akhirnya mengemudi jetski dengan satu tangan kanan sementara tangan kiri memegang badan Key biar agak ke belakang dan menempel di tubuh saya jadi lebih aman. Ribet dah. Hahaha. Kami berputar-putar hampir sepuluh menit. Key senang luar biasa.

  • Naik speedboat ke Pulau Penyu

    Sejujurnya, sebagai orang yang berusaha keras menjadi ramah terhadap alam, saya tidak merekomendasikan kegiatan ini. Saya ceritakan saja pengalaman kami ya, nanti setelah baca, kalian bisa ambil kesimpulan sendiri apakah akan berkunjung ke pulau ini atau tidak.Kami naik speedboat dari Tanjung Benoa ke Pulau Penyu. Tujuan utamanya mau makan siang di sana karena terakhir saya makan di Pulau Penyu, masakan laut di sana enak!

    Sampai di Pulau Penyu, belum kami menjejak kaki dengan baik saat turun dari speedboat, Key sudah diangkat Abang-abang yang entah siapa dan dibawa ke arah pintu masuk. Setelah kami membayar tiket masuk Pulau Penyu, Abang itu—yang masih menggendong Key dipundaknya—langsung membawa Key ke pojok tempat seekor penyu besar sedang bersantai. Dia menurunkan Key dan tiba-tiba srrrtttt menarik penyu dari tengah kolam ke pinggir. SAYA SYOK!!!!

    “Eh Bang, ngapain? Sudah biarkan. Keponakan saya bisa lihat kok dari sini.”, saya berkata ke Abang tersebut tapi dia keukeuh masih menarik penyu. ADUH!!

    “Nih Key duduk sini. Nggak apa-apa, duduk sini, nanti difoto sama mamanya.” si Abang mengangkat Key dan mau membawanya duduk di atas rumah sang penyu. SAYA JADI EMOSI!

    “Nggak usah, Bang! Anaknya nggak mau, jangan dipaksa. Kami lihat penyunya dari sini saja. Key pegang dan sayang-sayang penyunya saja ya. Sayang.. Sayang.. Maaf ya kami tarik kamu ke pasir, Penyu..” Saya memegang Key dan mencontohkan gerakan sayang-sayang penyunya.

    Sebenarnya nggak penting juga itu saya ajarin dia pegang penyunya, tapi saya panik dan bingung mesti bagaimana, GIMANA DONG?!

    Abang itu masih keukeuh dengan rencananya dan dia angkat badan Key dan didudukkan di atas penyunya. Saya emosi tapi bingung. Mau bentak juga ada Key dan Ken nanti mereka lihat dan dengar saya bentak Abangnya mereka takut. Huhuhu. Dan seperti yang saya perkirakan, Key nangis dong diangkat tiba-tiba dan didudukkan di atas binatang yang masih asing bagi dia dan besar pula. HADOH!!

    “Sudah nggak usah dipaksa. Anaknya nggak mau, kenapa dipaksa sih! Nggak semua anak mau didudukkan di atas penyu kayak gitu. Dan dudukkin penyu tu nggak benar! Yang benar aja lah Bang ngajarinnya!” Saya mulai ketus ke si Abang dan menarik tangan Key menjauh. Kesal setengah hidup, ingin masukkin kepala si Abang ke dalam pasir saja dalam-dalam.

    Belum berhenti sampai di situ, si Abang macam nggak paham ketusnya saya. Setelah dia nggak berhasil mengajak Key duduk di cangkangnya penyu, dia ajak Key melihat binatang lain yang ada di sana.

    Ada burung besar, ada beberapa monyet, dan ada iguana. Semuanya, kecuali iguana, ada di kandang. Dan keadannya sungguh menyedihkan. Saya nggak mengerti bagaimana harus bersikap. Mau ajak Key keluar tapi kami baru saja sampai dan bahkan belum makan siang. Berada di sana pun kok hati rasanya bersalah. Hiks.

    Melihat Iguana di Pulau Penyu
    Dan yang lebih menyedihkan lagi, di Pulau Penyu ada ular piton dengan mulut DISELOTIP! Ya Allah, Tuhan YME, kenapaaaa???

    Saya awalnya nggak sadar mulutnya diselotip dan sudah memanggul si ular karena si Abang menaruhnya di pundak saya. Pas saya sadar mulut ularnya diselotip, saya langsung mual dan muak. Sedih.

    Saya taruh kembali ular di atas peti dan bilang ke si Abang untuk melepas selotipnya.

    Dia bilang, “Iya nanti dibilangin ke yang punya.”

    YANG PUNYA SIAPAAAAA??

    Emosi…

    Pada akhirnya kami sekeluarga tidak menikmati waktu di Pulau Penyu, hanya sebentar di sana. Nggak sabar mau keluar.

    Oh… dan makanan di sana kurang cocok untuk anak-anak ternyata karena umumnya dimasak pedas. HYAAAA…

  • Monkey Forest Ubud

    Key dan Ken, seperti umumnya anak-anak, senang melihat binatang. Ini dilematis memang karena saya juga suka melihat binatang tapi suka merasa bersalah dan nggak lapang hati kalau melihat binatang dikandangi demi menjadi tontonan manusia.

    Nah, tapi di Monkey Forest Ubud, monyet-monyetnya tidak dikandangi. Mereka bebas berkeliaran dan berpindah tempat. Boleh banget nih dikunjungi. Key dan Ken senang sekali di Monkey Forest Ubud. Mereka terpesona melihat monyet-monyet yang tampak cuek hang out di pinggir jalan petak yang memang disiapkan untuk pengunjung. Key juga penasaran melihat monyet yang menggendong anaknya.

    Monyet di Monkey Forest Ubud
    Monkey Forest Ubud

    Monyet di Monkey Forest Ubud terkenal iseng memang, tapi monyet mana yang nggak iseng sih? Kayaknya itu sifat bawaan mereka. Hehehe.

    Saat kami lagi jalan santai, sempat ada satu monyet yang naik dan memanjat ke kepala mama. Mama diam namun terdengar nada panik “Dek, ini gimana ini? Panggil petugasnya, Dek..” dan saya celingak-celinguk mencari petugas yang tak tampak satu pun jua di sekitar jalan itu. Dan sementara kami panik, Key malah excited melihatnya. -____-

    Monyet itu akhirnya turun sendiri sih dari kepala mama. Sempat nangkring di pundak mama juga. Tadinya mau saya foto, tapi kok mama lagi panik saya malah foto-foto? Tatut, nanti sayanya dikepruk mama. Hihihi.

    Monkey Forest Ubud jadi tujuan wisata di Bali yang cukup menyenangkan untuk anak. Sayangnya, kami kemarin nggak bawa stroller sedangkan areanya cukup besar sehingga Key dan Ken kelelahan dan akhirnya harus digendong.

    Gendong mereka itu sungguh PR! Berat, Makjan! :)))

  • Pura Pekendungan (Tanah Lot)

    Waktu itu kami hanya berakhir pekan di Bali dan maksud hati mau ajak Key untuk lihat Pura Pekendungan sebelum ciao ke bandara. Sampai di sana, saya baru sadar sepertinya wisata pura agak kurang cocok untuk Key (atau saya generalisasi, anak-anak seumuran dia).

    Dia melihat puranya, tapi lalu ya sudah. Lempeng saja gitu wajahnya. Hahaha. Dia terlihat lebih bahagia melihat air di sekeliling pura daripada puranya. Jadi kami pun nggak lama di sana.
    Melihat (Air) Tanah Lot

***

Baru ini saja sih tujuan liburan bersama anak di Bali yang saya kunjungi bersama Key dan Ken, dua keponakan saya yang kadang lucu kadang nyebelin ini. Kali lain, semoga bisa liburan bersama keluarga lagi ke Bali dan mengunjungi tujuan wisata lainnya.

Liburan bareng anak lainnya: Roadtrip Malang Jogja Bersama Anak

Atau kalian ada ide berkunjung ke tujuan wisata di Bali lainnya? Boleh dong dibagi untuk menambah khasanah tujuan wisata ramah anak di Bali untuk Aunty-nya Key sama Ken niiii. Hehehe.

Senyum dulu ah.. 🙂

Related Posts

33 Responses
        1. Trus kamu petting mereka juga pas ke Bali Zoo?
          *tetiba ngebayangin Bapak Manager berbadan besar petting llama sambil bilang, ‘Uwiyuwiyu.. Mu unch unch anet ciiiih..’

  1. Liburan ke Bali bersama anak, apalagi balita. Ini adalah tema yang selalu bikin bingung. Soalnya banyaaaaaaak banget teman -terutama teman kantor yang mikir aku ini paham 101 jalan kemana aja- yang sering nanyain dan minta rekomendasi untuk ini.
    Agak bingung jawabnya, karena aku belum punya anak. Dan semua yang aku coba nikmati di Bali itu untuk orang dewasa. Touring, diving (freedive/scuba), snorkeling, rafting, canyoning, beaching, hiking, sampai lihat-lihat pura dan menikmati kesenian lain. Dan kayanya sama deh, kalau ditanyain paling aku saranin main air di Tanjung Benoa itu atau Monkey Forest yang di Ubud (jangan yang di sangeh, monyetnya bisa bikin anak trauma).
    Cuma kadang aku suka merhatiin, kalau bule-bule itu bisa bawa anaknya ke Bali lihat apa aja. Jadi aku pikir orang Indonesia harusnya juga bisa … Well, iya sih aku kepikiran juga. Anak-anak balita itu kurang antusias kalau lihat pura atau kesenian. Mereka itu cuma butuh main-main aja. Sebenarnya main air dan pasir di pantai mereka udah senang. Karena belum bisa snorkeling, paling ya diajak naik bottom-glass-boat biar bisa lihat isi laut langsung.
    Btw, kamu strong sekali ,,, tangan kanan pegang kemudi jetski, tangan kiri meluk ponakan? Hahahaha … Ada fotonya gak?

    1. Hahaha gak ada, Bhai. Kan pas itu kejadian di tengah laut, nggak ada yang motoin. Huks. Strong karena terpaksa. 😂
      Anak bule lebih antusias lihat pura mungkin karena berbeda banget sama yg biasa mereka lihat ya. Anak Indonesia terbiasa lihat tempat ibadah yang tampilannya nggak gedung doangan jadi mungkin yang ‘meh’ gitu. Hihi. Atau mungkin karena Key terlalu kecil untuk mengerti uniknya bentuk pura ya. 😁

      1. Aku rasa karena Key masih kecil aja. Anak bule yang seumuran Key juga lebih antusias liat laut, ikan, sama monyet kok kalau ke Bali. Boro-boro lirikin pura 😀

  2. Memang benar kak, berlibur bersama anak kecil atau orang tua, sekarang juga jadi sebuah pertimbangan aku untuk memilih tujuan yang tepat, karena pastinya kita akan berusaha membuat nyaman semuanya dan mengindahkan keinginan kita yang sudah sering jalan jalan hehe…Btw yang di pulau Penyu ironis sekali ya, tapi apakah ini sebuah kesalahan karena aku masih belum mengerti saat itu, ketika boleh berfoto bareng dengan mengangkat penyunya.

  3. rasanya Monkey Forest bakalan jadi tempat asik dan aman buat anak-anak. karena udaranya juga sejuk. kalau mau ke Tanah Lot serem liat ombak gede-gede kayak gitu.
    duh, aku kayak udh punya anak aja. ahahah

    1. Mau punya anak cepat nggak nih Dlien? Kalau mau, aku aminkan. Kalau nggak ya aku doakan Tuhan kasih nanti-nanti aja. Hehehe.
      Iya Monkey Forest paling fun sih. Bisa lihat monyet, suasananya adem, aman juga untuk anak lelarian. Hehehe.

  4. Itu abang-abang tukang penyu kok nyebelin kak?
    Aku yang baca jadi emosi sendiri 😔
    Dulu aku pernah ke pulau penyu juga, dan kondisinya emang bikin miris
    Pulang dari sana, ogah aku balik ke sana lagi
    Khan ya sedih kalo kita udah ngajarin si anak gimana cara nyayangin binatang, eh kok waktu liburan malah dirusak sama orang yang gatau apa-apa soal parenting

    1. Bener banget!! Aku geregetan tapi bingung gimana harus bersikap juga. Mau ngamuk tapi lagi ada keponakan, nggak ngamuk kok ya abang-abang itu membunuh turisme mereka sendiri dan lingkungan.
      Huks..

  5. Abang-abang itu kok nggak sopan banget ya. Udah main gendong anak orang, main dudukkin ke penyu, tarik-tarik penyu pula. Cuma turis sakit yang menikmati “sajian wisata” kayak gitu.
    Btw kalo aku kayaknya bakal ajak wisata kota aja deh, yang ke mana-mana gampang dan deket hehe

  6. Aku pernah ngajak Bintang ke Tanah Lot waktu dia umur 7 tahun kalo ga salah. Iya, dia gak antusias lihat puranya, malah seneng sama air yang menampar-nampar batu. Kayaknya juga dia males liat si Bun capek nyetir. Terus lihat orang2 Balinya lewat mo upacara dengan sajen di kepala juga gak terlalu minat, tapi jadi dia punya satu pertanyaan: Bun, itu gimana caranya beras bisa nempel di jidat?
    Nah, senengnya malah pas balik karena bisa beli oleh-oleh patung kura-kura, yang sekarang masih ngejogrog manis di bufet.

  7. aku jadi terpikir untuk ajak anakku ke Bali juga nih Kak Bulaaan. anakku suka banget dengan pantai, suka sama hewan, apalagi monyeeeeet. tapi aku takut sama ulaaar.

  8. fajar adiartha

    Lagi googling destinasi wisata di Bali sambil bawa balita, baca-baca sampe bawah eh kok ada fotonya Bulan.. Laaah gak jauh2 amat ya. Ini gue yang tahun 2013 lalu kita ke Maratua bareng 😀

    1. Duh, nggak pernah nyatet, Mbaaaak. Maafkaaan. Selalu bingung euy kalau ditanya habis berapa. Hehehehe.. Maaf yaaa…
      Coba aja dihitung misalnya mau ke mana aja, cari info harga tiket masuknya berapa, trus sewa mobil per hari berapa, gitu. Hehehe.

Leave a Reply