Liburan ke Australia, Pilih Sydney atau Melbourne?

Brighton Beach Bathing Box

Saya sering mendengar kalimat, “If you love Sydney, there’s a big possibility you won’t like Melbourne – and vice versa.” ketika mau liburan ke Australia.

Wah wah ada apa ini? *mata berkilat, haus gosip*

Saat saya tanyakan ke beberapa anak kos Limasan514 yang berasal dari Australia, mereka bilang kemungkinan hal itu terjadi bukan karena Sydneysiders atau Melbournian saling membenci atau saling merasa kotanya lebih baik dari yang lain, hanya saja suasana dan pembawaan dua kota itu memang berbeda. Jadi kalau orang suka suasana di Sydney, ya kemungkinan nggak suka suasana di Melbourne. Gidu..

*penonton kecewa, gosipnya nggak ada*

Wkwkwk.

Liburan ke Australia kemarin, saya dan Mama ke Melbourne. Kami sampai di Melbourne pagi hari dan datang-datang disambut loker stasiun yang tidak mau mengunci padahal siKoperKuning dan koper Mama sudah masuk berduaan di dalamnya dan uang saya sudah ditelan mesin 10 dolar. Wkwk. Akhirnya panggil petugas dan koper kami dititipkan di sebuah ruangan khusus di Southern Cross Station alih-alih di loker. Hihi. Blessing in disguise sih ini karena kalau kami simpan di loker, biayanya adalah 8 dolar untuk 3 jam pertama dan tambah 1 dolar per 1 jam berikutnya sedangkan kalau koper dititip di ruangan, biayanya 8 dolar sepuasnya. Hihihi.. Petugasnya sampai berkelakar, “Be back at 12 or at 1 (PM) or even tomorrow morning it’ll be fine.” Hahaha.

Tidak seperti di Sydney yang transportasi utamanya adalah kereta, transportasi utama di Melbourne adalah trem. Ini kali kedua saya menggunakan trem sebagai moda transportasi tapi tetap deg-degan karena masih meraba-raba sistemnya. Apalagi ada pembagian zona di tremnya Melbourne. Zona gratis, zona 1, dan zona 2.

Banyak pertanyaan muncul di pikiran saya tentang zona ini. Kalau jalan melewati zona gratis bagaimana bayarnya? Kalau kartu MyKi ditap sekali saja nanti bagaimana perhitungannya? Ini setopannya nggak ada angka atau namanya ya? Bagaimana aku bisa tahu kalau kamu benar sayang sama aku?

Gitu
Eh wait, kok ke situ?

Ya sehari dua hari penyesuaian, setelahnya saya dan Mama sudah bisa nyaman liburan ke Australia pakai trem ke mana-mana di Melbourne. Ahey!!

Trem di Melbourne

Kesan pertama saya tentang Melbourne setelah keluar dari Southern Cross Station: kotor ya.. Hahahaha.

Dari segi kebersihan jalan, Melbourne terasa lebih tidak bersih dibanding Sydney. Tidak bersihnya kebanyakan karena guguran daun-daun di jalan yang tidak disapu jadi sebenarnya no big deal, hanya memang terasa lebih berantakan saja. Saya pikir dedaunan itu tidak disapu karena saat itu masih pagi sekali tapi ternyata sekian hari saya di sana, saya menemukan pemandangan yang hampir sama tidak peduli jam berapa pun saya berada.

Mungkinkah ini terjadi karena liburan ke Australia kali ini di akhir musim gugur sehingga walaupun jalan telah disapu namun kembali kotor karena daun yang kembali berguguran?

Mungkin saja.

Apa yang nggak mungkin di dunia ini? Wong yang dulunya benci saja bisa kemudian jadi cinta.
HOKYA HOKYA HOKYA.

Setelah lewat dua hari saya di Melbourne, saya baru bisa merasakan kenapa banyak yang bilang kalimat di pembukaan (((PEMBUKAAN))) tadi. Suasana di Melbourne memang jauh berbeda dengan suasana di Sydney. Bandingannya lebih kurang Sydney itu Jakarta, Melbourne itu Yogya. Nah, tinggal pilih suasana mau dapat suasana apa saat liburan ke Australia?

Hosier Lane Melbourne

Sydney itu kota sekali, aura individualisnya terasa. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Mereka tetap baik dan menjawab saat ditanya, tentu, tapi kelihatan lebih solitaire gitu. Melbourne, di sisi lain, kotanya nyeni banget. Orang-orangnya lebih santai, selow, full of life. Kalau bicara, matanya kayak berkilat-kilat penuh semangat. Membuat orang yang diajak ngobrol jadi ikut senang.

Di jalan-jalan CBD Melbourne musisi jalanan memainkan berbagai macam instrumen. Mulai dari gitar, piano, drum, sampai barang-barang bekas. Musiknya dari mulai pop hingga klasik! Pemandangan orang menari (balet, tap dance) hingga orang melakukan sulap di pinggir jalan pun ada dan terasa wajar saja. Kayak nggak ada yang salah gitu, mau berkreasi macam apa juga selalu ada tempat untuk itu di Melbourne. Nyeni banget lah kota ini. Mama cerita, Mama pernah lihat di TV, seniman jalanan di Melbourne harus mendaftar dulu ke dinas sosial sana (kayaknya), dan minimal memegang ijazah strata 1. AJEGILE.. (coba ke highlight story ‘Melbourne’ di instagram Ubermoon untuk lihat beberapa video seniman jalanan di Melbourne)

Seniman jalanan di Melbourne terlihat (dan terdengar) seperti profesional. Benar-benar seperti orang yang menyenangi apa yang mereka lakukan. Mungkin bagi mereka, mendapat uang dari penonton hanya bonus sampingan saja gitu ya. Hehehe. Di Sydney ada seniman jalanan juga, tapi tidak banyak seperti di Melbourne, seingat saya. Dan tentunya, suguhannya nggak seberagam suguhan seni di Melbourne. Jadi, seniman jalanan seperti apa yang mau didengar/dilihat saat liburan ke Australia? Monggo, ada pilihannya.

 

Light Tunnel Melbourne

Yang lebih mengagetkan lagi, di Melbourne BANYAK BANGET orang Indonesia! Paling banyak karena kuliah di Melbourne tentu; selebihnya, pengusaha dan turis. Somehow, Melbourne jadi nggak terasa kayak Australia, lebih kayak Singapore tapi masih dengan beberapa kearifan lokal Australia (dan suhu yang lebih menyenangkan). Hihihi.

Cuaca di Melbourne menyenangkan sekali saat kami datang. Suhu berkisar di 20 – 22 derajat dan angin sesekali berhembus lembut. Nggak menggigit ke kulit. Great times to be outside!

Di Sydney, gedung-gedungnya kebanyakan ala modern; di Melbourne, menarik sekali melihat gedung-gedung yang ada di area utama mempunya desain yang berbeda-beda. Bisa dalam satu blok ada gedung modern berbagai macam bentuk dan TRING, ujug-ujug ada bangunan bergaya klasik di tengah-tengahnya.

 

Captain Cook's House

Karena banyak orang di Melbourne untuk bersekolah, saya jadi nggak bisa membedakan mana Melbournian mana pendatang. Saking bagus berbaurnya, semua jadi satu. Saya nggak tahu lagi mana lokal mana interlokal (LAH… wartel dong interlokal) dan jadi susah sekali membedakan asal orang.

Sydney juga melting pot. Banyak sekali orang luar Australia yang tinggal dan berbisnis di sana. Turkish, Indian, Italian itu yang paling banyak saya temui. Tapi di Sydney masih terlihat beda antara Sydneysiders dan pendatang. Saya masih bisa bedakan orang A dari negara B – orang C dari  negara D.

Di Melbourne, area utamanya tersentralisasi jadi mudah kalau mau nyari restoran Cina, Jepang, Korea, Vietnam, bahkan Indonesia sekali pun. Semua ada di area utama itu, tinggal pindah-pindah bloknya saja. Berbagai jenis toko juga ada di area utama; mulai dari toko suvenir, kosmetik, minuman hingga salon dan toko sepatu pun ada. Asyiknya lagi, area utama ini masuk dalam zona trem gratis! Sementara di Sydney, areanya terbagi-bagi. Ada area CBD, ada area komersil, ada area kehidupan malam, dll. Area-area di Sydney terasa lebih besar-besar dibanding di Melbourne. Mungkin karena satu-satu gitu ya areanya.

 

Liburan ke Sydney atau Melbourne

Harga-harga di Melbourne, saya merasa, lebih mahal dibanding di Sydney.

Di Sydney, saya masih bisa menemukan makanan seharga 5 dolar dengan porsi yang wah – bisa untuk makan berdua sama Mama. Di Melbourne, harga makanan berkisar di 10 – 15 dolar seporsinya. Satu porsi tetap bisa dimakan berdua sama Mama sih wong porsinya banyak sekali, hihihi, tapi definitely, lebih mahal. Paella di pasar kaget di Sydney harganya 10 dolar dengan porsi banyak;  paella di Queen Victoria Market Melbourne harganya 13 dolar dengan porsi yang lebih kurang sama.

Mama sempat bertanya, “Di sini nggak ada yang seporsinya kayak pas di Sydney, Dek?” dan kami pun cari-cari. Termurah yang kami dapat adalah 7,5 dolar untuk nasi + 2 lauk (prasmanan gitu sistemnya) dan walaupun porsinya lebih dari cukup, tapi kami masing-masing masih bisa menghabiskan satu porsi sendiri. Jadi ya podo wae nek diitung, berdua habis belasan dolar untuk makan. Hihi. Kami nggak ke daerah uni jadi nggak tahu harga makanan di uni, tapi ada kemungkinan lebih murah. (tapi jauh, mesti bayar tambahan trem, sama saja akhirannya..wkwk)

Dengan segala perbedaan ini, do I like Melbourne?

I DO!!

Becandaan orang-orangnya, ekspresi mereka, pilihan makanannya, suhunya, bahkan ke  jalan-jalannya (ya walaupun lebih kotor) pun saya suka. Memang benar, secara suasana, Sydney dan Melbourne itu beda banget. Menarik ya. Liburan ke Australia jadi nggak membosankan wong rasa satu kota beda dengan yang lainnya gitu. Melbourne lebih hangat dan ramah, Sydney lebih bersih dan private. Karena saya mudah dibahagiakan, jadi saya suka dua-duanya. Hehehe. Kalau ada satu kata dalam bahasa Inggris yang bisa menggambarkan Melbourne, saya tadinya pikir ‘artsy’, tapi setelah saya pikir-pikir lagi; artsy saja nggak cukup mewakili betapa hidup dan nyeninya kota ini. So I choose this word to represent Melbourne: VIBRANT! Yes, Melbourne is vibrant!

Senyum dulu ah.. 🙂

Liburan ke Australia, Bathing Boxes di Brighton Beach
Bathing Boxes di Brighton Beach

 

Related Posts

19 Responses
    1. Wkwkwkwkwk.. Sebenarnya mau bilang gampangan, tapi kurang scientific gitu kedengerannya, Dit. Ambivert aja deh ya biar kedengerannya kayak sesuatu. 😂

Leave a Reply