Pejalan Perempuan Jalan-jalan ke India

Jalan jalan ke India

Saya sering dapat pertanyaan tentang jalan-jalan ke India, solo traveling ke India, female traveler ke India, padahal saya juga baru tiga kali ke India dan baru mengunjungi sedikit kota dari 29 negara bagian di sana.

Banyak yang menganggap saya go-to person untuk ditanya soal India. Menanggapinya, ya saya bisa apa selain kibas rambut sambil menggeliat mengelilingi pohon kan.

*padahal apa yang mau dikibas dari rambut saya coba?! Pendek begini..* :))

Rambut pendek saat jalan jalan ke India

 

Pertanyaan dan jawaban tentang jalan-jalan ke India

Karena sering ditanyakan hal yang sama, jadi saya kepikiran untuk kumpulkan saja pertanyaan dan jawaban tentang jalan-jalan ke India, khususnya untuk pejalan perempuan.

 

Semoga ini membantu Teman-teman dan yang bukan teman (saya nggak diskriminatif) untuk meyakinkan diri jalan-jalan ke India. Hehehe.

  • Aman nggak sih perempuan ke India?

    Saya nggak bisa jawab langsung YA atau TIDAK, nggak bisa garansi. Tapi yang pasti, saya meyakini di setiap negara itu ada orang jahatnya dan ada orang baiknya.

    Nah, karena saya juga percaya karma, maka orang seperti apa yang akan kita temui dalam hidup ini (TSAH!) adalah juga tergantung karma kita. << Macam berat ya pembahasan ini. Wkwkwk

    Puji Tuhan, tiga kali saya ke India, tiga kali juga saya pulang tanpa kurang suatu apa. Alhamdulillah.

  • Susah ya jalan sebagai perempuan di India? Diliatin ya? Digodain ya? Itu ada yang sampai diperkosa!

    Susah: Enggak. Agak lebih menantang dibanding jalan ke negara lain? Iya.

    Terlebih kalau perempuan sendirian dan secara fisik terlihat sekali berbeda dengan orang sana. Ketahuan turis banget gitu. Saya beruntung wajah saya agak bunglon. Kadang kelihatan kayak Sunda, kadang India, kadang Filipina, kadang Jawa, kadang Cindo, kadang kayak BCL (Yhaaa.. Ngarep).

    Dari pertama saya ke India, beberapa orang sudah bilang saya mirip orang India timur kayak dari Darjeeling gitu. Pas saya googling wajah orang Darjeeling, lha ternyata kebanyakan terlihat seperti Chinese Mongolian. Hihihi.

    PS:
    Saya selalu dikira Chinese pas di Maroko. Dan saya juga disangka lokal pas di Cina. Lucu ya. Padahal kalau dari standar Cindo (atau orang Indonesia pada umumnya), saya nggak kelihatan Chinese sama sekali. Hihihi.

    Jalan jalan ke India — Taj Mahal
    Jadi kalau dari fisik, saya sesungguhnya nggak terlalu signifikan bedanya sama orang sana. Beberapa kali saya mau masuk museum pun saya ditagih harga tiket masuk lokal. Baru pas saya bilang, “No, no.. I’m foreigner.” mereka trus bengong sebentar lalu menagih harga tiket masuk khusus orang asing. Hihi.

    Orang India itu suka ngeliatin memang, khususnya ke perempuan. Yang lebih kurang nyamannya, cara mereka ngeliatin itu menatap, bukan cuma melihat sekilas. Saya pribadi kalau diliatin doang si nggak apa. Kalau saya sudah mulai merasa terganggu, biasanya saya tatap balik orangnya. Hahaha. Ntar lama-lama orangnya nunduk. Malu mungkin. Malu-malu mau. HALAH!

    Digodain?

    YAELAH DI JAKARTA AJA SAYA JALAN KAKI PAS HUJAN-HUJAN PADAHAL PAKAI JAS HUJAN DAN PAKAIAN TERTUTUP JUGA DIGODAIN!!

    Is it okay? No. Not okay. I was just giving a reality check, bahwa di negara saya juga saya menerima street harrasment serupa. Jadi seharusnya kalau sudah paham sama  godaan tak berfaedah di Jakarta (atau beberapa kota lain di Indonesia) ya akan selow dapat godaan pas di India. Cuekin aja. Prinsip saya, selama saya nggak disentuh, saya bohwat. Lewatin saja.

  • Mesti pakai pakaian kayak gimana sih biar aman?

    Usahakan pakai pakaian yang tertutup, nggak ketat, dan berbahan nyaman. Jangan lupa juga bersepatu. Kalau bisa, pakai sepatunya yang gampang dibuka, jangan yang bertali banyak.

    Bayangkan saja pakaian untuk masuk ke kuil/masjid/gereja gitu. Kenapa bayanginnya masuk ke tempat-tempat ibadah ini? Karena ya memang banyak tempat ibadah di sana. Hahaha. Dan memakai baju yang diterima di tempat-tempat ibadah ini memudahkan perjalanan; jadi nggak mesti ganti baju atau pakai syal/kain tambahan yang disiapkan tempat ibadah tersebut.

    Syal atau kain penutup yang dipinjamkan tempat ibadah tersebut kemungkinan sudah dipakai ribuan pengunjung dan hanya Tuhan yang tahu kapan itu syal dan kain  terakhir dicuci loh. Hihihi.

    Pakaian wanita India
    Ada beberapa pejalan yang senang pakai baju nasional dan baju daerah kayak saree atau anarkali saat jalan-jalan di India. Gpp juga, tapi perlu dipertimbangkan, untuk yang berwajah tidak India dan berkulit beda jauh sama orang India, siap-siap aja jadi bulan-bulanan diminta foto bersama.

  • Orang sana sering maksa pas minta foto bareng ya?

    Enggak sih, nggak maksa.

    Pengalaman saya, ya mereka minta saja gitu. Sama kayak beberapa orang Indonesia yang suka minta foto bareng bule di Monumen Bom Bali Legian lah. Hehehe.

    Kalau bersedia, ya tinggal foto bareng. Kalau nggak bersedia, saya biasanya bilang terus terang, “I’m sorry, I’m in a hurry.” trus jalan aja. Itu jujur ya karena saya jarang nolak foto bareng kalau orangnya minta dengan baik, jadi memang kalau pas nolak, itu karena saya memang lagi buru-buru.

    Ajakan foto bareng jalan jalan ke India
    Kadang, ada juga yang malu (atau nggak mau) bilang minta foto bareng. Tahu-tahu dia pakai tongsis dan berdiri di depan saya. Pas saya nengok ke layar HPnya, lah ada saya di belakangnya masuk ke layar juga. ISH.

    Awalnya nggak sadar ada tipe yang mau foto bareng dengan cara begini, lama-lama bukannya oke, saya malah kesal. APA COBA DIFOTO CANDID GITU? Kalau saya lagi ngupil gimana? Kan membawa nama kurang elok bagi negara saya!

    Seorang turis dari Indonesia tertangkap tangan sedang mengupil di Nahargarh Fort, sebuah benteng bersejarah di Jaipur, India. Berikut bukti fotonya.

    JENG JENG!

    Jadi kalau ada yang sok-sokan mau selfie trus saya ngintip ada saya di belakangnya masuk layar; antara dua, antara saya trus senyum ke kamera atau malah kabur. Seringnya saya lakukan yang kedua. Abis, nggak sopan sih!

  • Jangan mau kalau diminta foto bareng! Nanti dipegang-pegang!! Kampung banget orang sana minta foto bareng. Hahaha

    Pernah ada yang bilang begini ke saya. Nadanya menggurui banget. Pas saya tanya apa dia sudah pernah ke India, dia bilang belum. I rest my case.

    Foto bareng itu kampung? Bok! Jangan sedih.. Macam di Indonesia orang-orangnya nggak pada suka minta foto bareng bule saja. :)) Kampung enggaknya itu tergantung masing-masing orang ya, tapi faktanya, bahkan di negara kita sendiri, ada yang suka minta foto bareng bule. Hihihi.

    So, is it okay to say yes and take a pic with them?

    YES! Saya punya beberapa tips kalau dimintai foto bareng:

    (1)— Kalau diminta oleh banyak orang, katakan mau fotonya bareng dalam satu waktu saja. Jadi nggak satu-satu gitu. Selain lebih aman, foto bareng begini juga tidak menghabiskan waktu. Bayangkan kalau ada delapan orang minta foto bareng dan harus satu-satu ya bagaimanaaa? Lamo lah ikoooo..

    (2)— Usahakan tidak berada di tengah saat foto bareng dengan banyak orang apalagi dengan lawan jenis. Saya seringnya minta saya yang motret dan memegang HP atau kamera yang akan dipakai lalu saya bariskan mereka di belakang dan saya maju 1-2 langkah ke depan dan wefie deh. Hehehe. Jadi kan foto bareng tu, tapi badan saya tidak kena mereka, meminimalisir kemungkinan bersentuhan lah. Kata Mama nggak boleh bersentuhan dengan yang bukan muhrim. Cailah!
    Atau kalau mau bersebelahan, dibentuk ala foto band saja, jadi ada senjang antar masing-masing orang gitu. Hihihi.

    Foto bareng orang lokal di India
    (3)— Berposelah yang lurus-lurus saja. Tangan ke bawah, paling kepala saja yang agak miring (hihihi). Nggak usah pakai merangkul untuk terlihat ramah gitu. Bukan budaya sana juga rangkulan di foto antara perempuan dan laki-laki.

    (4)— Be honest. Kalau sedang tidak bisa melayani permintaan foto bareng (duileh ni kalimat bikin saya merasa macam Raisa saja..hihi) ya bilang saja jujur tidak bisa. Kalau tidak mau, bilang tidak mau. Tentu dengan tegas dan tetap sopan.

    (5)— Jangan berpenampilan menonjol kalau tidak mau diminta foto bareng.
    Saya pernah membaca ‘curhatan’ seorang pejalan di sebuah forum jalan-jalan di Facebook yang bilang dia terganggu banget karena sering dimintain foto bareng pas di India. Saya klik lah foto-foto perjalanannya, lalu saya ngekek. Lhaaaaa dia ke Taj Mahal pakai saree, ke Red Fort pakai saree, wajahnya nggak ada India-Indianya acan, ya gimana orang nggak getol minta foto bareng dia cobaaaa.. :)) Yang nggak sehat siapa? 😀

    Pakaian Saree India

  • Ada language barrier nggak di sana? (pertanyaan dari Mei GeretKoper)

    Ada sedikit tapi tidak terlalu terasa. Hampir semua orang bisa bahasa Inggris dan bahasa Inggris mereka cukup mudah dimengerti.

  • Transportasi umum susah nggak di sana?

    Enggak juga. Di Delhi, pada perjalanan kedua, saya baru mencoba naik metro dan ternyata Delhi Metro itu sungguh sangat menyenangkan dan reliable untuk digunakan. Harganya sangat terjangkau dan jaringannya mencapai banyak tempat wisata. Ada Woman Only Coach di gerbong paling depan pula.

    Yang agak menyebalkan dari Delhi Metro hanya satu: scanning di setiap pintu masuk! Hahaha. Scanning badannya dipisah antara laki-laki dan perempuan tapi scanning barangnya jadi satu. Itu kalau lagi bawa barang belanjaan banyak ribet banget deh. Hihihi.

    Metro India
    Selain dengan metro, auto rickshaw (disingkat jadi auto/oto) atau yang kita sebut bajay itu tersedia di hampir setiap pengkolan. Atau cara lain kalau nggak mau menyetop auto di jalan dan menawar adalah dengan mengunduh aplikasi Ola.

    Di aplikasi Ola ini, kita bisa pesan auto sama seperti kita memesan Gojek. Lucunya, saat kita sudah bertemu supir autonya, kita harus memasukkan kode ‘pairing’ gitu di aplikasi HP kita. Si Abangnya juga akan ‘pairing’ dengan kode yang sama di HPnya. Hahaha. Biar nggak salah orang kali ya.

    Harga di Ola ini sudah tertera kayak harga di aplikasi Gojek, sampai di tujuan tinggal kasih uangnya saja deh. Kalau nggak pakai Ola, harus tawar menawar harga. Menawar harga itu wajib, tapi jangan kasar dan sadis banget nawarnya ya. Eh tapi terserah sih, saya emang suka nggak enak hati kalau menawar sadis, suka kepikiran pas naik, apakah saya sudah menzalimi Abangnya? Hihihi.

    Uber juga tersedia di banyak kota besar di India. Uber di India kebanyakan nggak pakai mobil pribadi tapi kayak taksi khusus gitu. Badan mobilnya putih dengan garis hijau melintang horizontal di bawah jendelanya.

    Bayar Uber pakai kartu kredit Indonesia saat di India pun bisa dilakukan. Supirnya nggak semua bisa berbahasa Inggris jadi kalau mau stop over agak ribet ngasihtahunya. Tapi bisa dilakukan, hanya harus sabar. Hihihi.

  • Harga makanan di sana bagaimana?

    Dari murah sampai mahal ada! Saya suka sekali makan street food di India. Pani Puri tu favorit saya. Kalau liat Mamang Pani Puri di pinggir jalan bawaannya laper mendadak, padahal baru makan satu jam sebelumnya. Hihihi. Selalu ada tempat lah untuk Pani Puri. Sekali makan bisa sampai 15 (astagfirullah).

    Penjual jajanan pasar di India
    Makan di restoran harganya sedikit lebih mahal tapi masih terjangkau. Mau makanan yang lebih mahal dan tingkat atas, bisa ke restoran fine dining atau ke hotel bintang empat atau lima. Karena kalau bintang tujuh, nanti pusing dooong. *yah…joke lawas*

  • Makanan di sana jorok-jorok ya? Nggak bersih ya? Bikin sakit perut nggak?

    Guys, may I remind you: WE’RE INDONESIAN!! Hihihi.

    Macam makanan di Indonesia sudah yang paling bersih saja deh. Makanan jalanan di Indonesia juga campur debu, sinar matahari, plastik, tinta printer, juga kadang tinta koran. Wkwkwkwk. Kedai pinggir jalan di Indonesia juga banyak yang sebelahan sama kandang ayam atau toilet. Saus di makanan pinggir jalan di Indonesia juga banyak yang pakai saus ala-ala yang terbuat dari cabe dan tomat busuk.

    Pada dasarnya, sama seperti di Indonesia, believe your gut when you want to eat outside. Be it street food or not. Puji Tuhan saya nggak pernah sakit perut, nggak pernah kena Delhi Belly. Tapi bahkan untuk Pani Puri pun, saya lihat banget penjualnya karena Pani Puri tu dibuat pakai tangan. Jempol Mamangnya harus mecah kerupuknya untuk kemudian memasukkan tumbukan kentang, abis itu kerupuknya dicelup ke saus asam (pakai tangan juga tentu), nah kalau sekiranya Mamangnya bukan tipe yang bersihan, saya ya nggak beli. Hehehe.

  • Kalau makan di restoran (apalagi fine dining) sudah pasti bersih lah ya..

    KATA SIAPAAAA?? :))) Bossnya teman saya, hanya mau makan di hotel dan restoran kelas atas  di Delhi, pas di hari ketiga di India sakit perut parah sampai nggak bisa pergi-pergi. Hehehe. Atau teman satu hostel saya yang koar-koar dia cuma akan makan dari restoran atau mie instan demi menghindari sakit perut ya akhirannya malah sakit perut. 🙁

    Jadi kembali lagi, soal makan, believe your gut, and put a positive suggestion to your body. Kan masing-masing tahu kadar dan jenis makanan yang bisa diberikan ke tubuh. Kalau sudah ragu, mending jangan. Karena kata Oprah, doubt is don’t. Berlaku juga saat menentukan mau bilang iya apa enggak untuk pinangan si dia ya. Ingat!! Doubt is don’t yaaaa. Hihihi.

  • Pernah merasa takut nggak pas jalan-jalan di India?

    Pernah. Pas saya ke bandara Amritsar di pagi buta naik auto karena nggak ada taksi yang mau mengangkut saya sama sekali dikarenakan kabut yang sangat pekat dan kemudian Abang auto meninggalkan saya di sebuah jalan yang katanya menuju pintu bandara tapi saya nggak bisa lihat apa-apa selain bias lampu yang jatuh ke kabut yang tebal, itu saya agak merasa takut.

    Gulmarg Kashmir India
    Pas saya di Gulmarg sendirian dan diikuti belasan Abang Tukang Kuda di belakang sampai masuk-masuk ke hutan, itu saya takut.

    Baca disini: Solo Trip ke Kashmir, Aman Tapi Bikin Kantong Jebol

    Pas saya mau naik gondola sendirian di tanah antah berantah, itu saya takut.

    Banyak juga kan saya takutnya. Tapi ya kembali ke pernyataan awal lagi. Saya percaya selalu ada orang baik dan orang jahat dalam sebuah komunitas masyarakat. Jadi ya percaya saja sama karma baik diri sendiri dan stay positive.

    Percaya juga Tuhan akan lindungi. Di saat yang sama, tetap alert. Waspada sama sekitar. Agak abstrak ya, tapi ya abis bagaimana, percaya nggak percaya ya memang begitu adanya. Hehehe. Lagipula, kalau mengedepankan rasa takut, kita nggak akan ke mana-mana lho. Cailah Bulan kayak orang bener saja ngomongnya begitu.

Kayaknya sekarang sebegini dulu deh kumpulan pertanyaan dan jawaban tentang jalan-jalan ke India ya. Kalau masih ada yang mau ditanyakan, silakan lho di kolom komentar, nanti saya jawab langsung dan mungkin kalau banyak pertanyaan yang belum terwakilkan dalam post ini, akan saya buat post lanjutannya. Sedaaap!!

Semoga membantu meyakinkan diri Teman-teman yang mau ke India ya. Khususnya Teman-teman sesama perempuan. India itu indah, misterius, dan bikin penasaran.

Sweet, salty, in a mysterious way.

Kalau memang suka dengan budaya, warna, keanehan HQQ, dan ingin bersyukur untuk hidup yang selama ini dimiliki, datanglah ke India. Hihihi.

Dah ah, dari tadi sudah sudah terus tapi nggak berhenti-henti. Sekarang saatnya kuberhenti! Wabillahitaufik wal hidayah. Wassalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.. (semoga benar tulisannya).

Senyum dulu ah.. 🙂

Related Posts

49 Responses
  1. Seru! Berguna banget tulisannya.
    Solo traveling kadang masih jadi “an alien concept” sih buat sebagian orang, mulai dari dibilang ngenes, jomblo, atau niat banget. Apalagi kalo yang lakuinnya perempuan, ditambahlah sama hal-hal yang Mba Bee tulis di atas.
    Asoy tulisannya, Mba! Kocak seperti biasa. Hahaha..

    1. Yay!! Kamu baca sampai habis, Mas? 👏👏👏 Bahagia aku. Ini panjang banget soalnya 2000 kata lebih. Wkwkwk.
      Memang ya, konsep jalan sendiri itu masih agak susah diterima. Bahkan Mamaku aja suka bingung kenapa aku suka ngelakuin apa2 sendiri, nonton sendiri, makan ke resto sendiri, datang kawinan sendiri, jalan2 sendiri. Hihihi.

        1. Like how I put it, “People tire me sometimes.” 😂😂😂😂
          Suka ngerasa capek nggak sih kalau abis datang acara yang harus ngomong sama banyak orang secara private selama berjam-jam? Ku suka capek menghadapi orang. Kalau abis gitu suka ndekem di kamar aja sendirian getting my me time oh yes no people around I’m free!! Wkwkwk.

  2. Baca tulisanmu ini, rasanya aku pengen komenin setiap poin nya deh, dari sisi cowok hahaha.
    Intinya sih India gak cuma menantang buat cewek aja, tapi buat cowok juga.
    O iya, soal tatap menatap, kayanya yang mengintimidasi itu adalah bentuk bola mata dan wajah mereka. Sebenarnya menurut standard mereka, ya itu menatap biasa, cuma karena matanya belo, dan bola mereka lebih dalam, jadi kesannya kaya gimanaaa gitu. Awal-awal sih aku sempat merasa terintimidasi juga. Tapi setelah beberapa hari di India, ya biasa aja. Kadang aku liatin balik, senyumin kalau perlu.
    Dan aku setuju dengan poin bahwa aman gak aman suatu tempat atau seram dan nggaknya itu tergantung gimana kitanya. Pas mau berangkat aku sempat diingetin soal makanan yang gak higienis, scam, penculikan dan pencurian organ tubuh, sampai perkoasaan. Bayangin aja, cowok mau pergi ke sana diingetin ‘ati-ati diperkosa!’ 😀
    Tapi alhamdulillah, pas di sana baik-baik aja. Malah dapat banyak teman, dan ketemu ‘keluarga baru’ yang sampai sekarang masih saling kontak.
    Jadi India itu memang menantang, kadang ribet di beberapa bagiannya, tapi kalau pas jalan kesana kita sudah membekali diri dengan info yang cukup -soal keamanan dll- dan menerapkan standard keamanan yang cukup, serta tetap waspada sewajarnya yaaa baik-baik aja. Yang ada pasti bakal kangen ke India lagi. Soalnya aku merasa gitu. Masih pengen balik ke India lagi, lagi dan lagi 🙂
    Tadinya aku mau komenin foto-fotonya juga. Tapi ntar aja deh pas di Jogja hahahahaha

    1. Apa lagi ini komen soal foto-fotonya adooooh.. Foto ada akunya semua gitu ya. Biariiiin!! Huh. Hihihi. Aku ni suka kawatir sekarang kalau kamu bilang mau komenin ini itu nina ninu. Berasa kayak ada titisan Mamah dalam diri kamu dan ada ajaaaa salahku yang akan kau temukan. Hahaha.
      Btw, aku ngakak agak sedeng pas baca “bola mereka lebih dalam”. OKEXIP! Maafkan aku. 😂

      1. Iya, aku bisa menguliti setiap kesalahanmu satu per satu. Maklum, kerjaan sehari-harinya juga analisis 😀
        Duh, maksudnya tuh ‘wadah bola mata mereka yang lebih dalam’ … gimana ya istilahnya … ya begitulah tau sendiri.

        1. Wkwkwkwk. Please deh Bhai, stop analyzing especially me!!! Wkwkwkwk.
          Cepat cepat ke Yogya aku udah gak sabar disetirin!! #lah #ternyatabegitumodusnya

      1. Hayu Hamemayu

        Take me there, take me there, 🙋🏻‍♀️🙋🏻‍♀️, eh btw mbak, OOT, ke Maroko itu orang Indonesia butuh paspor ga sih?

        1. Hayu Hamemayu

          Ya ampun efek ngantuk, maksudku butuh Visa gak, kalau Paspor ya jelas butuhhhh 🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️

  3. Hayu Hamemayu

    Ya ampun efek ngantuk, maksudku butuh Visa gak, kalau Paspor ya jelas butuhhhh 🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️

  4. Gue suka Bulan suka ingetin kalau orang dan budaya Indonesia masih banyak mirip dengan India dan kita ga perlu sok superior, menganggap diri lebih yak?

  5. Aku inget banget waktu dulu mau ke India, baca2 di forum2 (internasonal) katanya kalo makan kaki lima, ati2, sakit perut bla bla bla. Trs pas di sana, makan jajanan kaki lima, biasa2 aja tuh, ga ada sakit perut sama sekali. Terus br ngeh: kita di Indonesia kan jg ya begini2 jg kaki limanya secara kualitas kebersihannya, sementara yg bicara di forum internasional itu ya mungkin dr negara2 yg ga terbiasa sama debu dan polusi kayak di Jakarta.. hihihihi..

    1. Hahahaha betul banget!! Temanku dulu yang orang India juga kawatir banget pas aku bilang aku makan makanan kaki lima di sana, dia bilang dia takut aku kena Delhi Belly. 😂 Padahal yaela, di Jakarta juga nganu banget jajanannya. Hihihi.

  6. Bella

    Halo kak Bulan, Aku butuh tips buat ngeyakinin keluarga buat solo traveling ke sana nih kak huhu masih gak diizinin:( and it’ll be the first aku jelong jelong ke luar sih ahahah

        1. Ah! Easier then!
          Kasih tahu aja itinerary kamu ke orangtua. Bilang kamu sudah yakin dan percaya diri. Janjikan kasih kabar setidaknya sehari sekali saat nanti jalan, dan lakukan. Kalau mereka kenal teman kamu yang di India, beritahu saja nanti kamu akan ketemu A gitu. Minta doa restu dan dan bilang kamu butuh itu, make them feel proud alih-alih worry. 😉

  7. Pas banget artikelnya buat pencerahan saya yang lagi galau mau kesana sendiri.
    Mumpung ada tiket murah tapi belum dapat teman kesana.
    Btw mbak, share itinerary dong.
    Note. Kalau ada yang mau ke India bulan Februari 2019, kontak saya doooong 😀

    1. Mari silakan yang mau ke India Feb 2019 barengan sama Mbak Dini silakaaaan..
      Kepikiran mau nulis itinerary tapi masih bingung pasnya untuk berapa hari dan ke kota mana saja. Hihihi. Tapi coba nanti aku pikirkan yaaa..
      Terima kasih sudah membacaaaa..

    1. Typo dari Taj Mahal ya.. Pasti karena jempol Mbak Antie tidak bekerjasama dengan baik nih. Hihi.
      Itu ada yang mau ke India bulan Feb 2019 tu di komen atas. Coba komunikasi sama Mbaknya, siapa tahu bisa pergi bareng. Hehe.

  8. Katarina

    Salam kenal mbak Bulan. Senang baca tulisan mbak. Maret ini ada rencana ke India, rencana awal brkt bareng temen tapi ternyata yg 2 cancel jadinya sendirian. Agak worry jg sich krn blm terbiasa aja sendirian di negara orang 🙂 oya, utk akses internet di India mohon infonya dong mbak. Terima kasih.

    1. Halo, Mbak Katarina.. Untuk akses internet, yang paling masuk akal dan gak ngabisin waktu menurutku adlh beli kartu SIM di bandara. Pilih Vodafone.
      Kartu baru bisa diaktifkan setelah 24jam dengan menelpon ke nomor call center gitu dan memasukkan nomor apaaaa gitu aku lupa, ntar dikasitau sama Mamang2nya di sana. Hehe.

  9. info dr mbak bulan menarik sekali, saya jg mau pergi ke india ber 3 cewk smua. mgkn ada reader blog mbak yg mau cari teman jalan ke India 27 April 2019-5 Mei 2019 (9hari). detail lengkapnya bisa message langsung. terima kasih

  10. siska

    hai mbak, tulisannya membantu sekali.. 🙂
    lebih baik tukar uang rupee di india langsung atau di indonesia ya mbak?
    dan aku ada waktu transit setengah hari di amritsar, bisa jalan2 gak ya ke kota nya dan bisa ada penitipan tas kah di bandara amritsar?
    thanks ya 🙂

    1. Halo.. Terima kasih sudah membaca. 🙂 Aku selalu ambil uang di ATM di sana, hehe, selama ini nggak ada masalah (kecuali pas India sempat krisis uang tunai) jadi nggak bisa kasih info nih yang lebih baik tukang rupee di sini atau di sana. Hehehe.
      Setengah hari di Amritsar bisa langsung sewa auto untuk ke Golden Temple. Di satu kawasan Golden Temple itu ada Jalianwala Bagh dan toko-toko juga jadi bisa sekalian. Jangan lupa waktu yaaaa. Hehehe. Enjoy your trip! <3

Leave a Reply