Perjalanan Mendaki Gunung Rinjani

Mendaki Gunung Rinjani

Saya nggak pernah memasukkan diri saya ke kategori anak gunung atau anak pantai, karena seyogyanya, walaupun saya terkenal sebagai Incess Ikan, tapi saya pernah beberapa kali naik gunung juga. Ahzek.

Pernah sekali saya sebal sama orang yang mentahbiskan dirinya sebagai anak gunung dan bertanya ngenyek ke saya “Udah mendaki gunung mana aja? Perempuan mah baru bisa dibilang tangguh kalau udah naik gunung. Pantai mah apa lah..”

Saya bengong tak percaya menatapnya.

Kenapa coba dia bisa bilang perempuan itu tangguh kalau sudah naik gunung? Apa dia lupa fakta bahwa perempuan tangguh itu jika dan hanya jika bisa angkat galon Aquanya sendiri?!

***

Alkisah di akhir tahun 2016, Widi, teman saya di Langkah Dewi (grup penulis yang berhasil menelurkan satu buah antologi tapi lalu blasss, hilang dimakan waktu nggak pada bertelur lagi wkwk) bertanya di grup apakah ada yang mau mendaki gunung Rinjani bersamanya?

Di luar bayangan, saya membalas pertanyaan dia dengan pertanyaan lain seolah-olah saya tertarik.

KESAMBET APA COBA? Hahaha.

Ya walaupun pernah mendaki beberapa gunung, tapi sesungguhnya saya nggak begitu menikmati mendaki gunung. Bagi saya, gunung itu menjebak. Saat sudah mulai mendaki, you have no other option other than finishing your whole trip, no turning back in the middle of the trip. Saya nggak suka berada di situasi yang saya tidak punya pilihan apa-apa. Makanya saya bingung kenapa saya menyambut pertanyaan Widi dengan semangat?! 😀

Baca juga:

Berkemah di Danau Segara Anak
Saya dan Widi, berkemah di Danau Segara Anak

Rute kami mendaki gunung Rinjani adalah naik via Sembalun dan turun via Senaru. Rute itu seperti huruf M. Desa Sembalun di bawah, naik ke atas sampai Plawangan Sembalun, turun lagi ke Danau Segara Anak, naik lagi ke Plawangan Senaru, baru terakhir turun lagi ke Desa Senaru. Panjang ya.

Iya.

Kayak pembukaan obrolan si dia saat mau minta putus saja.

Desa Sembalun berada di ketinggian 800 – 1200 meter di atas permukaan laut. Kami, yang beberapa jam sebelumnya baru sampai dan menginap di Desa Senaru naik mobil bak terbuka dulu untuk menuju Desa Sembalun.

Dari Desa Sembalun perjalanan dimulai, melewati sawah milik warga kemudian padang savana. Padang savana ini luas sekali! Jalan masih terhitung landai namun ya Tuhan, panjang banget treknya. 😀 Kami mulai trekking jam 09.15 dan harus melewati padang savana tanpa pergola (ya lu kata parkiran mobil pake pergola) di sekitar jam 10 dan 11 pagi. Panas nggak?

Kata orang, panasan api neraka!

Astagfirullah.. *ketok-ketok meja sebelah*

Puji Tuhan angin masih sesekali berhembus. Kadang saya berhenti jalan dan cuma menutup mata menikmati angin yang lewat. Macam Rose di kapal Titanic saja minus Jack yang memeluk dari belakang.

Padang Savana — Mendaki Gunung Rinjani
Padang Savana Menuju Pos 1 Rinjani

Trip mendaki gunung Rinjani ini kami namakan #NonaNonaTrip . Aslinya kami hanya jalan berdua dan mempekerjakan dua porter tambahan untuk membantu membawakan barang. Kok mempekerjakannya dua porter? Kenapa nggak satu saja?

Karena kasihan, nanti Abangnya kesepian kalau sendirian.

Semakin dekat ke hari keberangkatan, kami berubah pikiran dan akhirnya tidak hanya mempekerjakan dua porter tapi juga tambah satu pemandu, Angga namanya.

Angga ini kenalan adiknya Widi, Drian. Baik Angga maupun Drian sudah pernah mendaki gunung Rinjani sebelumnya. Nah karena sama temannya dan pas Drian ada waktu kosong, maka ikut lah Drian dalam #NonaNonaTrip ini. Hahaha. Jadi yang jalan: saya, Widi, Drian, Angga, dan dua porter. BEUH!! Kurang nona-nona apa coba tu perjalanan mendaki gunung Rinjani ini!! :))

Makan-makan di Rinjani
Makan-makan di Rinjani

Saat mulai mendaki, saya bersyukur banget kami jadi pergi sama mereka karena kalau hanya bersama porter, para porter ini nggak akan menunggui kami. Mereka akan jalan sesuai dengan pace jalan mereka yang cepat; yang tentu saja berbeda dengan pace jalan kami. Ya jangankan sama porter lah lha wong saya sama Widi saja pace jalannya berbeda. Perumpamaannya, porter jalan dengan pace cheetah, Widi jalan dengan pace kucing/anjing, dan saya jalan dengan pace…wait for it..

SIPUT!

Hihihi..

Jadi bayangkan kalau hanya dengan porter, yang ada saya dan Widi akan jalan berduaan saja. Dan mengingat pace jalan saya dan Widi yang berbeda, yang ada akhirnya kami akan jalan sendiri-sendiri. YA AMPUN SEDIH BANGET!! Di ibukota jalan sendirian ya masa sampai gunung Rinjani juga jalannya sendirian. Apa kata Pak Masrun yang jualan gado-gado di pengkolan kanan gedung kampus sebelah coba?

Jadi keputusan pergi bersama Angga dan Drian adalah keputusan terbaik yang kami ambil menjelang kepergian kami mendaki gunung Rinjani. Alhamdulillah.. *raup muka*

Perjalanan dari Desa Sembalun sampai Pos 1 adalah yang terpanjang – walaupun dominan landai. Dari Pos 1 ke Pos 2 lumayan naik tingkat kesulitannya, bonus di tengah mendaki eh hujan turun! Jadilah kami mendaki dalam kebasahan, sambil bernyanyi Yang~ Hujan~ Turuuuun lagi~ Di bawah payung hitam ku berlindung~

Di Pos 2, melihat keadaan kami yang sudah lepek demek kasihan (wkwk), Angga memutuskan akan jalan hingga Pos 3 saja lalu berkemah di sana malamnya.

Pemandangan Pos 3 Rinjani
Pemandangan Pos 3 Rinjani

Perjalanan keesokan harinya dimulai sekitar pukul 9 pagi. Tepat setelah Pos 3 adalah Bukit Penyesalan yang digadang-gadang menjadi bukit curam menanjak yang membuat banyak pendaki menyesal kenapa mereka memutuskan mendaki gunung Rinjani. Hihihi.

Tapi di Bukit Penyesalan ini justru saya banyak bersyukurnya. Bersyukur banget mendaki kali ini ditemani teman-teman yang AMAT SANGAT menyenangkan. Saya rendah diri kalau urusan mendaki. Saya merasa jalan saya lama sekali dan sering merasa saya memperlambat yang lain gitu. Suka merasa bersalah, jadinya.

Tapi entah bagaimana, Widi, Drian, dan Angga membuat saya nyaman sekali dalam perjalanan ini. Nggak ada yang mengeluh saya memperlambat dan Widi tipikal yang juga nggak ribet menunggui saya, jadi memang kami jalan terpisah. Widi jalan sama Angga di depan dan saya jalan dengan Drian di belakang.

Drian sih nggak lambat ya jalannya, tapi sabar sekali menunggui saya, tanpa komentar apa-apa selain “Di depan ada yang landai, Mbak. Bisa istirahat di sana.” atau “Sedikit lagi Mbak. Ayo pasti bisa.” atau “Ambil jalan yang mana aja yang loe ngerasa nyaman, Mbak. Muter dikit juga nggak papa selama loe ngerasa loe lebih enak ambil jalan itu.” atau “Bisa Mbak, pasti bisa. Sedikit lagi sampai.” atau “Loe pegang akar atau rumput aja Mbak. Kuat kok itu.”

Tidak sama sekali Drian merasa saya butuh bantuan di sana sini. Dia diamkan saja saya merambat naik, ngesot pakai paha saat menaiki dinding tebing, narik badan saya sendiri dengan berpegang ke akar. Dia diamkan semua—kecuali kalau saya sudah bilang “Bendot (panggilan Drian) Bendot pegangin..” baru dia datang megangin. Hihihi. It helps me a lot! He made me feel like I can do it!

Pemikiran saya tentang diri saya jadi bukan ‘saya memperlambat mereka’, tapi lebih ke ‘saya pasti bisa sampai, walaupun pelan tapi pasti bisa sampai’ dan saya jadi semangat terus mendakinya. Walaupun ya semangat itu bertahan hanya hingga dua puluh tujuh detik kemudian.

Widi juga gitu, kalau di tenda dan saya mulai nggak percaya diri dan nanya ke dia apa saya bisa? Jawaban dia SELALU, “Bisa Bul. Pelan-pelan aja pasti bisa nyampe juga.” Dan saya langsung percaya diri lagi kalau saya bisa.

Gampangan memang anaknya, dimotivasi dikit langsung sumringah. Wkwk.

Perjalanan Mendaki Gunung Rinjani
Perjalanan Mendaki Gunung Rinjani

 

Widi dan Angga tentu menyelesaikan Bukit Penyesalan duluan. Saya sudah mulai kelelahan dan istirahat setiap dua tiga menit sekali di ujung-ujung Bukit Penyesalan. Menyesal mendaki gunung Rinjani? Tidak. Yang ada malah bersyukur.

Mendaki gunung banyak membuat saya lebih mengerti tentang diri saya sendiri. Saya jadi tahu ternyata untuk mengangkat badan, tangan saya lebih kuat dari kaki saya (selama ini saya kira kaki saya lebih kuat).

Sebelumnya juga, saya nggak pernah berpikir saya takut ketinggian. Saya menikmati terjun lenting, saya suka banget luncur gantung, saya baru saja menikmati paralayang, saya cukup rutin naik pesawat dan baik-baik saja; masa sih saya takut ketinggian?

Ternyata somehow, iya. Hahaha.

Ketika hampir sampai Plawangan Sembalun, saya sempat berhenti sebentar dan (sok-sokan) menengok ke belakang untuk melihat pemandangan. Kami berada cukup tinggi kala itu, Plawangan Sembalun ada di ketinggian 2639 meter di atas permukaan laut, dan ketika saya berbalik untuk melihat pemandangan itu kami berada kira-kira 5-6 meter sebelum sampai Plawangan Sembalun.

Pemandangannya indah, Bukit Pergasingan dan Gunung Sembalun menyembul dari balik kabut putih yang cukup pekat di depan saya, di kanan terlihat kontur hutan lebat dengan kemiringan tajam, hijau royo-royo sekali warnanya, di bawah saya terlihat trek yang baru saya lewati, curam melelahkan campuran tanah kering dan batu kerikil kecil yang lumayan licin, dan ketika saya menengadahkan kepala lagi, tiba-tiba saya pusing.

Kliyeng ceunah! Hahaha.

Mungkin tekanan darah saya rendah saat itu. Baru kali ini saya merasakan kliyengan karena melihat pemandangan dari ketinggian. Hihihi.

Naik Gunung Rinjani
Bulan, naik Gunung Rinjani

Kami menyelesaikan perjalanan mendaki gunung Rinjani ini dalam 4 hari 3 malam.

Bisa lebih cepat? Bisa!

Banyak orang yang tektok kok, naik pagi pulang sore lewat satu rute. Kami sih memang mau santai dan saya bilang dari awal nggak mau diburu-buru. Saya mau menikmati perjalanan dan pemandangan.

Setelah 4 hari 3 malam naik turun gunung, sampai di Desa Senaru, ada rasa yang tidak bisa saya ungkapkan.

Campuran lega, bahagia, bersyukur, dan rasa lebih sayang sama diri sendiri.

Saya tidak menaklukkan gunung Rinjani; alih-alih, saya menaklukkan diri saya sendiri.

Menaklukkan ego untuk berjalan sendiri, meluruhkan gengsi untuk meminta bantuan, mengetahui lebih banyak tentang kemampuan.

Sudah lebih tangguh dong saya sekarang. Coba mana Aqua galon yang harus saya angkat gelundungin sini!! Wkwk.

Senyum dulu ah.. 🙂

Plawangan Sembalun Rinjani
Plawangan Sembalun Rinjani

Related Posts

56 Responses
  1. Nanjak lagi nyok..gw jadi kangen
    Kirain incess ga datang ke nikahan gw tuh liburan manja asoy di pantai ternyata muncak Rinjani toh
    Hal yang perlu diselamati ini..congrats yah onti incess yang tiada dua pesona kerennya

    1. Hahahaha. Iyaaaa, kumendaki gunung, Angkel!! Abis itu manja asoy di pantai pas di Moyo si. Bihihik.
      Selamat untuk pernikahannya sekali lagi Angkel dan Fathriaaaa.. (yes yes gak salah namaaa).

      1. Tetap salah kau onti incess
        Fathria
        Hurufnya ada 2 saja..
        Oia ke Moyo juga lali kulo mbae.
        Onti lewat Senaru..warbiyasak ih..gw mah cukup Sembalun pulang pergi..hahahha

  2. Deskripsi Plawangan Sembalun itu udah bagus banget, diriku serasa ada di sana dengan gambaran yang dirimu tulis, kak…sampai pada kalimat pusing kliyengan.Inces terkena serangan kolesterol!! Jangan lupa benecol,kak…biar naik gunung jadi puoool

    1. Ish.. Kamu jadi copywriter ica banget nih Ri! Jangan lupa Benecol, biar naik gunung jadi puoool!! Hahaha.
      Eh, aku nggak ada kolesterol. Coba kamu cari produk lain untuk darah rendah dan bikin slogannya ya. (((SLOGAN)))

  3. Yihaaaaa, one achievement unlocked ya incess kebanggaan akooh…..btw itu bukan bukit penyesalan deh, tapi bukit penyiksaan, jalur bukit penyesalannya ada di seberang (arah kanan kalau dari arah mendaki), yang keliatan bentukan jalurnya meliuk-liuk

      1. Engga, 2 jalur emang, Penyesalan dan Penyiksaan, Penyesalan udah ga dipake karena rutenya terlalu panjang tapi lebih landai, kalau Penyiksaan lebih terjal tapi waktu tempuh lebih rendah….gitu sih kata senior yg dulu buka jalur taun 80an 😁😁😁 tapi yg mana pun sama-sama ga enaaak 😂😂😂😂

  4. Wihhh tulisan ini bikin hasrat naik gunung bergelora! Btw, MBELGEDES itu apa? Ga ngerti tapi kok bikin ngakak hahahahaha..
    Bener, Mba. Di luar zona nyaman, di bawah tekanan, kita dipaksa buat nunjukin sisi lain kita. Beruntung kalo dapet temen pendakian yang ga egois. Hehe..

    1. Mbelgedes itu kayak….. MBELGEDES, gitu. Hahahaha. *gak menjelaskan*
      Sok laksanakan mendaki gunung lagiii. Aku sih sampai tahun depan, ke Gunung Sahari saja lah. Hihihi.

  5. Pertama, aku gak rela foto gif abangku ditonjok ditampilkan di tulisan ini. *ngakungaku
    Kedua, aku bukan anak pantai juga bukan anak gunung. Aku mah anak warung sejati.
    Ketiga, cewek angkat galon TANPA KETUMPAHAN itu emang keren kok.
    Keempat, fotonya cakep-cakep. Ceritanya seru dan kebayang enggapnya kayak gimana.
    Kelima, duh banyak banget komen aja pake satu dua tiga empat dan lima. Cukup dah.

    1. Pertama, itu Abang kamu? Ya ampun, dia mantan Mamang Aquaku!!
      Kedua, anak warung mana kamu? Sama warung Pak Masrun deket?
      Ketiga, itchulah akuuu.. *sejak ditinggal Mamang Aqua yang ditonjok di atas*
      Keempat, aciiih.. Cukup sekali lah akuh ke Rinjani. Hihihi.
      Kelima, aku sayang kamu. Dah lah.. Bye…

  6. Ahh di foto itu cuma pencitraan aja.. paling nanti digendong sama pangeran siapa gitu buat daki ke atas.
    Wekekek terus aku anak apa dong, daki gunung belum pernah, snorkeling baru dua kali itu ga nyelem banget..

  7. Huaaaaa, serunya. Ini hampir seperti penderitaanku naik Rinjani waktu itu. Aku sok-sok ngikutin pace si guide tapi akhirnya ditinggal di hutan bukit penyesalan pada jam enam sore. Kan gelap ituuhhh. Jadi merambat-rambat sendiri asal ngikutin lampu di atas aja deeh. Huaaa… Pengen sih naik Rinjani lagi santai-santai, soalnya waktu itu gak summit, hahaha. (Trus ngiri liat Widi summit)

    1. Hahahaha. Aku malah gak pengen naik Rinjani lagiii. Kapok!
      Well, atau mungkin nggak sekarang2 ini si. Gemini gt, keinginan bs berubah dalam hitungan bulan (atau hari). 😂😂

  8. Tuh khan bisa khaaan? Aku yakin kamu bisa. Yuk, ke Himalaya! Hehehe …
    Bulan, aku nanti japriin no kontak organizer, porter de-es-be de-es-be nya yaaaa.

    1. Hihihi. Terima kasih ya Bhai. Alhamdulillah yaaaah, pulang selamat.
      Kontak nanti aku whatsapp ya. Ada juga di post yang kedua tapi nanti aku whatsapp kamu juga.

  9. aak, bulan keren kali kau, Mak!
    gue belum kesampaian juga nih ke Rinjani, dan tiba-tiba Tama juga nanya pengen naik gunung gak, kayaknya ini bakal jadi gunung incaran berikutnya, hehehe…
    seru cerita Bulan!

    1. Huwaaaawww aku tak sabar melihat foto-fotomu di Rinjani, Ki!! Apakah rambutmu tetap tergerai? Apakah kulitmu tetap terlihat bersih bercahaya? Hihihihi.
      Empat hari gak mandi Ki. Aku demek pisan. Keringetan kering keringetan lagi kering lagi. Auk amatan dah. 😂

Leave a Reply