Trip ke Derawan Lagi Setelah Lima Tahun

Trip ke Derawan melihat sunset

“Dek, Mama pengen trip ke Derawan deh. Di sana tu yang bisa renang sama ubur-ubur ya? Adek sudah pernah ke sana ya? Mau nggak ke sana lagi?”

YAK!

Ibu Ratu bertitah.
Incess Ikan menjalankan.

Mari kita ke Derawan!

***

Dua tahun setelah saya mulai kena virus suka jalan di tahun 2010, saya punya satu tujuan impian untuk dikunjungi di Indonesia.

Derawan.

Saya tahu tentang Kepulauan Derawan dari media sosial dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat foto tempat ini. Bagaimana nggak, setiap melihat foto Derawan yang berseliweran tu penggambarannya air laut bening, pasir putih dan (sepertinya) halus, juga langit cerah biru. Ciamik banget itu foto bagi anak Jakarta Bekasi yang setiap hari lihatnya gedung tinggi menjulang, beton abu-abu, orang-orang bermuka senep pulang kantor capek keringetan mesti empet-empetan di kereta dan langit putih pucat. Wkwk.

Pertama kali saya ke Derawan di tahun 2013, kedua kalinya dengan Mama di tahun 2018. Bagaimana keadaan Derawan setelah lima tahun berlalu?

 

Cara ke Derawan dari Jakarta

Ada beberapa rute yang bisa dipilih kalau mau ke Derawan dari Jakarta.

Di tahun 2013, pertama kali saya ke Derawan, saya terbang dari Jakarta menuju Balikpapan lalu lanjut terbang lagi dari Balikpapan ke Tarakan. Dari Tarakan, perjalanan dilanjutkan dengan speedboat selama 4 jam sampai di Kepulauan Derawan (Pulau Maratua)

Di tahun 2018, saya mengambil rute yang berbeda.

Dari Jakarta, saya dan Mama terbang ke Balikpapan dilanjut dari Balikpapan terbang ke Berau. Dari bandara di Berau, kami menempuh perjalanan darat 2 jam (dengan kondisi jalan yang sudah beraspal bagus mulus) untuk mencapai Pelabuhan Tanjung Batu. Dari Pelabuhan Tanjung Batu, kami naik speedboat selama 40 menit hingga ke Pulau Derawan.

Lebih nyaman rute perjalanan yang mana?

Saya lebih suka rute 2018 (Jakarta—Balikpapan—Berau—Derawan). Memang ada perjalanan daratnya (yknow how I hate perjalanan darat kan) tapi perjalanan daratnya hanya 2 jam dan jalannya pun sudah mulus dengan pemandangan yang cukup indah jadi tak mengapa. Hihihi.

Speedboat di Kepulauan Derawan

 

Penginapan di Kepulauan Derawan

Di tahun 2013, saya menginap di Pulau Maratua. Pulau ini berisi resor-resor atas air yang koprol sedikit bisa langsung nyebur ke pantai. Hihi. Di belakang resor-resor ini ada rumah warga, tapi tidak terlalu banyak, mungkin hanya beberapa saja.

Hal ini menjadikan Pulau Maratua terasa lebih privat, cocok untuk honeymooners atau pejalan yang mencari ketenangan. Mengingat sepinya pulau ini, saya sarankan kalau menginap di Pulau Maratua, bawa cemilan yang agak banyak; karena warung atau restoran sangat jarang. Restoran hanya ada di resor-resornya saja.

Apa saja yang bisa dilakukan di Pulau Maratua? Jalan-jalan di pinggir pantai, lihat penyu hijau yang kadang suka datang ke dekat resor, berenang di sekitaran resor atau menikmati momen matahari terbenam sambil duduk di sunbed dan berpegangan tangan, ngobrolin masa depan.

Misalnya masa depannya suram dan lebih baik berpisah, ya nggak apa-apa. Diobrolin saja.
Mungkin jodohnya hanya sampai jalan bareng ke Derawan saja.

Sunbed Resor di Maratua

Di tahun 2018, saya dan Mama menginap di Pulau Derawan (cek highlight ‘Derawan’ di Instagram saya untuk tahu nama penginapan kami di sana). Pulau Derawan terasa lebih hidup, cottage di atas air yang ada di Pulau Derawan langsung berhubungan dengan rumah-rumah warga di daratan.

Di jalan utama, banyak restoran, toko suvenir, toko penyewaan sepeda, toko penyewaan alat snorkeling, hingga warung kelontong. Ada satu warung yang jual pisang goreng enak banget, saya sama Mama setiap hari beli. Hahaha. Pisang gorengnya dimakan dengan dicocol sambal kacang pedas manis. Warungnya nggak bernama, tapi posisinya di seberang belakang cottage tempat saya menginap. Hihi.

Di Pulau Derawan, selain menginap di cottage, hampir semua rumah warga juga menyediakan kamar yang disewakan untuk wisatawan menginap.

LOH KOK BISA?

Di PON 2008, pantai Pulau Derawan menjadi lokasi penyelenggaraan pertandingan bola voli pantai, selancar angin, dan selam sehingga banyak atlet yang menginap di pulau Derawan.

Nah, daripada membangun wisma atlet di pulau ini (yang pada akhirnya jadi tidak efektif dan efisien karena hanya akan digunakan saat ada pertandingan/acara olahraga saja), penyelenggara memiliki gagasan untuk meminta warga turut andil menjadi host bagi para atlet ini.

Di setiap rumah warga yang bersedia berkontribusi, diminta dua kamar dengan fasilitas sesuai permintaan panitia. Kalau nggak salah ingat info dari pemandu kami di Derawan, untuk pembangunan dan penyewaan dua kamar tersebut selama acara, setiap pemilik rumah diberikan dua puluh lima juta. Setelah acara PON 2008 berakhir, kamar-kamar yang tadinya untuk atlet tersebut bisa disewakan lagi untuk wisatawan.

Ide bagus ya. Win-win solution.

Penyelenggara dapat menyediakan kamar untuk atlet selama berlaga, pengeluaran bisa dijaga dengan menyewa kamar-kamar rumah warga alih-alih membangun wisma atlet, dan kamar-kamar yang tersedia bisa lebih efektif karena bisa untuk disewakan lagi setelah acara selesai.

Good initiative!

Cottage di Derawan
Cottage di Pulau Derawan

 

Wisata di Kepulauan Derawan

Ada 4 pulau yang terkenal di Kepulauan Derawan. Konon, pulau-pulau ini berkeluarga makanya namanya seperti berhubungan satu sama lain.

  • Derawan diambil lebih kurang dari kata perawan.
  • Sangalaki dari (sang) lelaki.
  • Maratua dari mertua.
  • Kakaban dari kakak.

Jadi deh mereka berkeluarga semuanya. Hihihi.

Berwisata ke Kepulauan Derawan berarti juga mengunjungi beberapa pulau dalam keluarga ini.

Di Pulau Derawan, wisatawan bisa jalan-jalan santai atau bersepeda. Melihat matahari terbenam dari dermaga adalah kegiatan yang tidak boleh dilewatkan. Di Pulau Derawan saat malam Minggu juga ada pasar malam. Hihihi.

Bersepeda di Pulau Derawan
Bersepeda di Pulau Derawan

Pulau Kakaban adalah yang paling terkenal, saya rasa, karena danau tempat ubur-ubur tidak menyengat berada di pulau ini. Di dunia, hanya ada beberapa danau tempat ubur-ubur tidak menyengat berada, Danau Kakaban di Kepulauan Derawan ini salah satunya.

Baca ceritanya: Menyentuh ubur-ubur di Danau Kakaban

Stingless Jellyfish di Danau Kakaban
Stingless Jellyfish di Danau Kakaban

Pulau Sangalaki adalah pulau kecil tempat konservasi penyu. Di pulau ini saya juga melihat biawak besar banget yang kalau diperhatikan, mirip komodo! Hihi. Bentuk badannya sampai cara jalannya mirip banget! Hanya, biawak lebih pemalu dibanding komodo yang seringnya sebodo teuing sama manusia. Wkwk!

TIPS:
Saat turun dari kapal untuk ke pulau Sangalaki harus hati-hati ya, banyak ikan pari mendem di pasirnya. Ikuti saja jalur yang dibuat pemandu atau motoris biar aman, jangan buka jalur sendiri, oke!

Konservasi Penyu Pulau Sangalaki

Pulau Maratua dikunjungi untuk foto-foto dan bersantai saja biasanya. Tapi selain ke resornya, bisa juga ke Laguna Kehe Daing. Menyenangkan sekali main-main dan ngobrol dengan Ibu pemilik tanah di Laguna Kehe Daing. Coba search ‘ubermoon laguna kehe daing’ dan baca tulisan saya tentang laguna ini. Hihihi.

 

Spot Snorkeling di Kepulauan Derawan

Apa artinya trip ke Derawan kalau nggak snorkeling yekan. Hehehe. Ada beberapa spot snorkeling di Kepulauan Derawan ini.

Spot Derawan adalah lokasi snorkeling yang berada dekat sekali dengan Pulau Derawan. Spot ini pas untuk yang mau pengondisian sebelum masuk spot snorkeling lainnya yang di tengah laut. Masuk ke spot ini bisa nyebur dari kapal atau dari dermaga. Karangnya biasa saja, tidak terlalu bagus, tapi ikan-ikannya banyak!

Taman Sabilly adalah spot snorkeling yang memiliki koral besar-besar dengan bentuk yang aneh-aneh. Ada yang berbentuk kumpulan bunga, cawan dengan bagian tengah yang cekung, dan ada juga yang terlihat seperti jari.

Di tengah koral ada beberapa anemon dan ikan badut yang berenang lincah di antara sulur-sulurnya. Ikan-ikannya tidak terlalu banyak tapi ada bebebrapa yang besar sekali. Turun ke spot Taman Sabilly langsung nyebur dari speedboat ya, jadi kalau belum biasa snorkeling, saya sarankan minta ke Spot Derawan dulu untuk pengondisian sebelum ke Taman Sabilly.

Saya perhatikan, di semua perjalanan ke laut yang saya lakukan di tahun 2018, sistem ‘docking’ saat kapal menunggu penumpang snorkeling tu nggak ada lagi yang buang jangkar melainkan dengan mencantolkan tali di sebuah pelampung yang tersambung ke tambang dan tambangnya ‘tertanam’ di bawah laut.

Suka deh saya sama metode ini; nggak ada lagi jangkar yang ditancapkan mengenai karang di bawah. Semoga sekarang semua spot snorkeling berkarang memakai metode ini ya. Hihuw..

Bawah Laut Taman Sabilly
Bawah Laut Taman Sabilly

Turtle Point adalah spot snorkeling melihat penyu. Melihat saja ya, jangan dipegang, ditarik, apalagi ditunggangi. Penyu bukan demonstrasi, tidak bisa ditunggangi. EAAAA… Lokasi Turtle Point tidak jauh dari Pulau Derawan, bahkan kalau dari penginapan kami, bisa dicapai dengan snorkeling 8-10 kali gaya dada. Hihihi.

Saya melihat delapan penyu saat snorkeling di sekitar Turtle Point sementara Mama melihat lima ekor penyu. Kami memang terpisah saat di Turtle Point ini karena saya keasyikan berenang menjauh mengikuti seekor penyu hijau. Hehehe.

Ada dua spot snorkeling lagi sebenarnya yang harusnya kami singgahi keesokan harinya. Satu spot di dekat Sangalaki dan satu spot di dekat dermaga Kakaban, tapi kami memutuskan nggak turun mengingat ombak yang begitu besar menerjang.

Selain snorkeling, kami juga main ke sebuah gusung. Kami datang tidak di masa puncak sehingga spot-spot yang kami datangi tidak terlalu penuh, bahkan di gusung itu, kami sendirian! Saya lupa nama gusungnya tapi. Wkwkwk.

Trip ke Derawan Bareng Mama—Pulau Gusung
Trip ke Derawan bareng mama—Pulau Gusung

Saya begitu bahagia saat trip ke Derawan kali ini. Lima tahun berselang dari kunjungan pertama saya namun pantai di Pulau Derawan masih terjaga bersih, dermaganya masih bagus, dan orang-orangnya tetap ramah.

Bawah laut Kepulauan Derawan masih indah, konservasi penyu di pulau Sangalaki berjalan baik (di bulan Agustus—Desember, setiap malam pasti ada penyu yang bertelur dan setiap hari pihak konservasi melepas tukik-tukik siap juang kembali ke lautan), dan sudah tidak ada lagi yang terang-terangan membuat kerajinan dari cangkang penyu karena dilarang keras oleh pemerintah.

Yang masih bikin sedih hanya satu: penggunaan wadah plastik sekali pakai dan konsumsi air mineral kemasan masih meluas di kepulauan ini.

Air minum teman makan siang di tengah laut masih pakai air minum kemasan, padahal makanannya sudah diwadahi tempat bekal yang bisa dicuci dan dipakai kembali. Ibu penjual jus dan pisang goreng memasukkan jus buatannya ke dalam gelas plastik sekali pakai, mengelap meja dengan tissue (padahal di sebelah tisu ada lap kain), dan tadinya mau memasukkan pisang goreng pesanan kami ke wadah plastik sekali pakai juga sebelum kami berteriak, “TIDAAAAAK..” dengan drama. Wkwk.

Ya yang bisa mulai memang diri kita sendiri ya. Saya dan Mama bawa botol minum sendiri-sendiri yang kami isi air minum galon dari dispenser di penginapan. Pas makan malam, kami sengaja pesan teh panas (atau tidak pesan minum sama sekali) karena kalau pesan teh panas disajikannya dalam gelas – bukan teh kemasan.

Saya sama Mama memberitahu pemandu kami maupun Ibu penjual untuk mengurangi pemakaian plastik sekali pakai tapi tentu masih butuh usaha lebih dari sekedar memberi tahu orang per orang ya.

Semoga akan ada bimbingan soal minimalisasi penggunaan plastik sekali pakai (khususnya) di pulau Derawan, kalau perlu dilarang penggunaannya sekalian. Hehe.

Saya yakin orang-orang di Kepulauan Derawan adalah orang-orang yang mau belajar dan mau berkembang apalagi demi lingkungan.

Semoga saja.

Senyum dulu ah.. 🙂

Related Posts

9 Responses
  1. yang spot deket Sangalaki itu aku juga mabok dan capeeeeeek banget rasanya. Ngejar manta kok ya ombaknya guede banget. manalah ku terpisah jauh pula sama kapalnya.

    1. 🙁 Kemarin ditawarin spot itu lgsg nyerah deh. Ombaknya gila. Wong boat aja diparkir di dalam pemecah ombaknya saking kalau diparkir di luar, motorisnya mabok kali. 😂 Masuk boat aja susah karena kapal naik turun. Huks.

    1. Pas pertama aku ke sana dan lihat warganya buang sampah ke laut, aku sempat sangsi masih akan sebiru ini si pas aku datang lagi. Ternyata alhamdulillah masih kejagaaaaaa.. Sekarang juga nggak ada yang buang sampah ke laut lagi. Alhamdulillah.

  2. Jadi makin pengen ke Derawan.
    By the way memungkinkan gak sih kalau berangkat sendiri, trus nanti di sana nyari-nyari grup buat jalan bareng?
    O iya, sistem berlabuh tanpa lempar jangkar (per kapal) aku amati juga dilakukan di Bali Barat. Di sekitaran Gili Matra (Meno-Air-Trawangan) juga, cuma sayangnya koral di daerah ini sudah banyak yang rusak 🙁

    1. Kayaknya enggak bisa, Bhai. Orang sampai sana sudah grup-grupan gitu. Bisa sih kalau punya nomor orang sananya dan tanya apa ada grup yang bisa dibarengin tanggal A gitu misalnya, tapi jarang banget yang gitu.
      Terakhir aku di Gili Air masih lempar jangkar. Alhamdulillah ya kalau sekarang udah nggak gitu lagi. Semoga masih bisa bertumbuh koralnya.

Leave a Reply