Tujuh Hal Tentang Sydney Australia

Apa yang ada di bayangan kalian tentang orang dan negara Australia?

harbour-bridge-sydney

Sebelum berkunjung secara langsung ke negari kangguru ini, saya berpandangan orang Australia adalah a bunch of drunkards who like to create troubles. Hahahaha. Maafkan ya, ini pengaruh melihat tingkah orang Australia yang liburan di Bali kayaknya. πŸ˜› Negaranya sendiri, saya anggap negara yang mahal. Makanya saya nggak menaruh negara down under ini di daftar prioritas ‘negara wajib kunjung sebelum Bulan ditembung’.

#EHAPA

Alpanya keinginan ini berubah saat BuJendral a.k.a mama saya bertitah untuk menghabiskan libur Idul Fitri tahun ini di Australia.

Saat tahu Mama minta ke Australia, saya sebenarnya sudah modus sekali memberi banyak pilihan negara tujuan wisata lainnya, kemudian mengerahkan trik marketing untuk menggiring opini Mama biar mau ke negara lain saja selain Australia. Tapi apa daya, sekali Mama saya berkata Australia, Australia it is! Hahaha!

*basically you don’t argue with a Leo*

Maka berangkatlah kami ke Sydney, Australia. Dan pelesiran singkat ini mampu mengubah beberapa pandangan saya tentang negara dan orang Australia. Berikut adalah tujuh hal tentang Sydney dan Sydneysiders (sebutan untuk orang Sydney) yang bisa saya catat dari perjalanan saya kemarin.

view-from-sydney-tower

 

SYDNEYSIDERS (TERNYATA) SOPAN DAN RAMAH

Seperti yang saya utarakan di atas, saya mendapat kesan orang Australia itu suka mabuk dan membuat keributan dari melihat tingkah polah wisatawan Australia yang berlibur di Bali. Pokoknya kalau ada keributan karena wisatawan lalu ditanya orang mana yang buat keributan dan dijawab Australian, maka banyak orang langsung mafhum sambil berujar, “Oh, pantas.” – saking seringnya mereka banyak gaya. Hihihi.

Tapi ternyata, sepanjang kunjungan singkat kami di Sydney, tidak satu kali pun kami temui orang mabuk dan mengganggu di jalan. Padahal saya dan Mama menginap di daerah Kingscross yang mana keluar stasiun itu (ternyata) adalah pusat kehidupan malam (ada banyak sekali sexy bar, sex shop), tapi suasananya sangat terjaga dan aman, jauh dari kesan dodgy.

Sydneysiders juga ternyata sangat ramah dan sopan. Saya selalu terbiasa menyapa ‘Hi, good morning!’ sebelum mengutarakan pertanyaan/keinginan ke orang lain yang saya temui dalam perjalanan; baru di Sydney lah sapaan saya SELALU dibalas. Dibalasnya lengkap pakai ditanyakan kabar.

Beberapa kali di awal, pertanyaan kabar ini malah membuat blank karena kaget ada pertanyaan yang membalas sapaan saya.

Saya” Hi, good morning!”- bersiap mengutarakan pertanyaan/keinginan.
Mbak/masnya, “Hi, how are you today?”
Saya, “Good. Thank you. How are ya?”
Mbak/masnya, “Good!”

*kemudian sunyi*
*sepi*

Eh tadi saya mau nanya apa deh? -_____-/malahlupa/

Sapaan ini penting kayaknya bagi seluruh Sydneysiders. Dan mereka benar bertanya, bukan sekadar basa-basi.

Di Starbucks, laki-laki yang antri depan saya langsung nyerocos mengatakan pesanannya saat sampai di konter. Barista Starbucksnya diam mendengarkan dan saat laki-laki itu sudah selesai nyerocos, Mas Barista berkata, “Hi, how are you today?”

Laki-laki itu menjawab singkat, “Fine, thanks.” dan Mas Barista bertanya, “What would you like to order?” MUAHAHAHAHA diulang deh tu tadi pesanannya. Hihihi. Nyerocos ae sih Masnyaaaa.. :))

Pengemudi Australia juga sopan dan penuh pengertian. Kesadaran berkendaranya tinggi. Kalau mereka lihat kami sedang menunggu di pinggir jalan untuk menyeberang, mereka akan berhenti untuk memberikan jalan. Misal kami berhenti di kiri jalan, mobil dan motor yang berjalan di sisi jalan tempat kami berdiri langsung berhenti, nah pas kendaraan di sisi kiri itu berhenti, kendaraan dari arah sebaliknya langsung otomatis ikut berhenti untuk juga memberikan jalan. Menyeberang jadi lebih mudah dan tidak menakutkan lagi deh. Hehehe.

bondi-skate-park

TIDAK MUDAH MENEMUKAN STARBUCKS DI SYDNEY

Pikiran saya: come on, untuk kota semodern Sydney, Starbucks pasti mudah ditemukan dong! Tapi ternyata tidak! Di Sydney yang notabene kota urban yang sibuk, Starbucks susah ditemukan!!

Apa orang Australia bukan penikmat kopi?

Yang saya lihat, mereka penikmat kopi. Tapi mereka lebih suka membeli kopi di kedai kopi lokal. Ada satu kedai di jalan yang saya dan Mama lalui untuk menuju stasiun dari hotel; kedainya kecil banget, bahkan pintu masuknya hanya muat untuk satu orang. Tapi di pagi hari, kedai ini selalu penuh.

Yang saya lihat juga, nggak banyak orang Australia yang suka nongkrong di kedai kopi. Jadi seringnya orang pesan untuk dibawa jalan. Kedai kopi lokal banyak tersebar di stasiun-stasiun dan hampir setiap kedai yang kami lihat sedang melayani pembeli. Menarik ya.

bondi-beach-australia

AUSTRALIA NEGARA MAHAL (tapi mahalnya masuk akal)

Saya jadi relijius sejak mengurus perjalanan ke Jepang. Setiap kali lihat harga penginapan, saya langsung berucap astagfirullah.

Relijius banget kan. πŸ˜€

Saya kira Australia juga akan sama mahal-nggak-masuk-akalnya dengan Jepang, Puji Tuhan ternyata tidak. Mahal sih memang iya, tapi setidaknya mahalnya masuk akal. Harga yang dikeluarkan, menurut saya, sebanding dengan apa yang didapat.

Banyak yang menanyakan dan tertarik dengan hotel tempat saya dan mama menginap. Namanya MacLeay Hotel. Harga yang kami bayarkan waktu itu adalah sekitar 1.7 juta rupiah per malam dan yang kami dapatkan adalah satu unit apartemen dengan ruang tidur, kamar mandi, dan juga dapur. Lokasinya cukup dekat dengan stasiun dan berada di lingkungan yang strategis, aman, dan menyenangkan. Dapurnya lengkap pula ada kompor dan microwave segala. Pemandangan dari jendelanya pun breathtaking – kalau kata Kak Richo dan Kak Gio. Hihihi.

view-from-the-room

Secara umum, harga makanan dan minuman di Sydney pun masih masuk akal menurut saya. Makanan seharga 50.000 – 60.000 rupiah sekali makan ada. Cari yang sedikit lebih murah bisa beli frozen food di supermarket (hehehe) dan panaskan di hotel. Cari yang lebih mahal banyak. Jenis makanannya pun beragam, nggak cuma western saja. Australia, khususnya Sydney, itu seperti melting pot – tempat berkumpulnya manusia dari segala bangsa. Jadi jangan heran kalau kita melihat ada kebab, falafel, bahkan paella dijual di pasar kaget akhir pekan.

Transportasi bagaimana?

Menurut saya, jalan-jalan naik kereta di Sydney masih terhitung mahal. Tapi naik bus itu murah sekali. Sayangnya, di bus tidak disebutkan nama pemberhentian selanjutnya. Jadi ya kalau nggak mau perhentiannya terlewat, bilang saja ke pengemudinya mau turun di mana, minta beliau beritahu kalau waktunya turun. Kalau saya dan Mama memang jalan santai, jadi ya sekenanya feeling saya saja. Feeling saya harus turun di perhentian berikutnya, ya saya pencet bel dan turun. Kalau salah ya sudah, dibuat tertawa saja. Tinggal lanjut naik bus selanjutnya atau lanjut jalan kaki. Hihihi.

Memantau perhentian saat naik bus akan lebih mudah kalau terhubung ke internet, karena ada aplikasi transportasi khusus Sydney dan Meidi dulu mengajarkan saya memakainya. Sayangnya, aplikasi ini tidak bisa digunakan saat offline.

Jalan kaki juga jadi kegiatan paling murah dan menyenangkan di Sydney. Trotoarnya besar dan udaranya bersih jadi jalan kaki pun nyaman. Pemandangannya juga cukup aduhay.

taman-di-sydney

SUSAH CARI WIFI GRATIS DI SYDNEY

Karena saat saya dan Mama ke Sydney itu saya sudah resign dan menikmati status baru sebagai pengangguran, jadi saya nggak butuh terhubung ke dunia maya setiap saat untuk memantau pekerjaan, maka saya nggak beli nomor lokal untuk sambungan internet. Dan siapa yang menyangka ternyata di Sydney susah sekali mendapatkan koneksi internet gratis via wifi. HAHAHAHA.

Di taman nggak ada, masjid nggak ada, gereja juga, stasiun bahkan juga nggak ada. Saya yakin kedai kopi yang lokal dan kecil pun tidak menyediakan koneksi internet gratis. Sekalinya saya dapat koneksi wifi gratis hanyalah di sepanjang Oxford Street . Kiri kanan Oxford Street itu dipenuhi toko-toko segala macam, saya jadi curiga disediakannya koneksi wifi gratis di Oxford Street Sydney adalah demi lancarnya bisnis buka PO para wisatawan (dari Indonesia). Hihihi.

sydney-opera-house

VISA AUSTRALIA ADALAH E-VISA

Untuk pengumpul visa stiker dan cap, Australia bukan negara yang ingin kalian tuju. Hehehe. Australia tidak memberikan visa stiker maupun cap. Visa yang diberikan adalah berupa visa elektronik yang dikirim ke surel pemohon. Nanti dari surel, keterangan visa bisa dicetak untuk keperluan penerbangan dan imigrasi. Tapi saat sampai imigrasi Sydney, cetakan visa elektronik saya nggak diminta.

Saya rasa ini karena visa elektronik yang diberikan sudah tersambung secara daring dengan aplikasi yang dibuka Petugas Imigrasi di Australia. Barusan saya cek, paspor saya juga tidak dicap. Jadi nggak ada tanda fisik saya pernah berkunjung ke Australia di paspor saya, yang ada hanyalah memori yang tersimpan nyata di dalam kalbu. TSAH!! Hihihi.

Untuk yang mau irit halaman paspor seperti saya, visa elektronik ini menyenangkan karena setidaknya ada satu halaman nggak jadi penuh oleh visa stiker. Hihihi. Jadi jatah halaman itu bisa untuk visa/cap negara lain dan memundurkan waktu untuk mengganti paspor karena halaman penuh. Win liao!

pesawat-dan-awan

SYDNEY SANGAT RAMAH ANJING

Melihat ke arah mana saja, bisa dipastikan ada Sydneysiders yang sedang membawa anjingnya jalan-jalan. Pemandangan ini jamak di Sydney. Kotanya ramah anjing.

Mulai dari French Bulldog hingga Alaskan Malamute dibawa berjalan santai. Bahkan beberapa kali saya lihat seorang ibu yang mendorong stroller berisi bayi dengan seekor anjing berjalan cepat di samping strollernya. Lucu banget! Terlihat sekali bahwa anjing memang bagian dari keluarga, bukan hanya sebagai hewan peliharaan.

Taman-taman di Sydney pun ramah anjing. Dan semua taman maupun jalan tetap bersih, tidak terlihat satu pun kotoran anjing. Mengutip omongan Mamang Ganteng yang membawa Scooby Doo besar di Hyde Park tentang anjingnya, “He recently passed the potty training.” Hahahaha. Bagus ya Mamang Ganteng melaksanakan tanggung jawabnya, nggak cuma memelihara anjing tapi mengajari anjingnya potty training juga. Duh Mang, poinmu di mataku naik 132,97 persen lho.. ❀

saint-mary-cathedral-sydney

 

TUJUAN WISATA YANG WAH TERNYATA BIASA SAJA

Ada satu keanehan yang saya rasakan ketika main ke Sydney. Beberapa tujuan wisata di Sydney yang terlihat wah sebelumnya (dari foto atau video promosi wisata), ketika didatangi, kesan yang didapat jadi, “Oh, sudah begini doang?” >.<

Bukan berarti tujuan wisatanya nggak bagus. Bagus kok. Bersih pula. Tapi ya sudah, nggak yang WOW banget gitu. Tercatat saya merasakan keanehan itu saat melihat Opera House, Sydney Tower, dan Bondi Icebergs. Oh, Blue Mountains juga sih.

Lah jadi semua dong?

Iya, hampir semua yang saya kunjungi bagus tapi nggak mahadahsyat. Bersih dan pemandangannya oke, tapi nggak wow. Ini tentu pendapat yang sangat personal ya. Mungkin saja orang lain merasakan hal yang berbeda. Tapi saya dan Sharon berpikiran sama soal Opera House yang ternyata biasa saja ini. Hihihi.

iceberg-bondi-sydney

Walaupun tempat wisatanya biasa saja, tapi Sydney jadi satu dari sedikit kota besar di dunia yang saya yakin bisa betah saya tinggali. Saya suka semua hal ihwal kehidupan keseharian di kota ini. Kotanya rapi dan bersih tapi tidak terlalu sempurna higienis. Orang-orangnya taat aturan tapi nggak hidup kayak robot. Kehidupan berjalan bersisian antara pekerjaan dan sosial. Saya suka udaranya, langit birunya, trotoarnya yang besar, makanan, fesyen jalanan, gereja, taman, semua-muanya.

Nggak tahu kalau sebagai kota tempat bekerja apakah akan sama menyenangkannya seperti saat menjadikannya kota tempat wisata tapi, who knows. It is always worth to try living in a new city, no? πŸ˜‰

CAILAH..

Jadi, siapa yang mau menembung saya nih…..
Abisannya kita jalan ke Australia ya, Bang..
Tinggal sebulan dua bulan lah di sana..

Hihihi..

Senyum dulu ah.. πŸ™‚

***

Baca juga:

  1. Pokhara, I’m in Love
  2. Amsterdam Membuat Saya Jatuh Cinta
  3. Jatuh Cinta Sama Canggu

Baca juga tulisan Sharon tentang Sydney: Sydney for First-Timer: Kemana Aja?  

Advertisements