Dibentak di Aceh!

•
•8
This post was made as a daily journal for Nescafe Indonesia.
Thank you for the journey, Nescafe. Proud to be part of Sobat Journey. 🙂

Setelah delay pesawat, transit di Medan, dan perjalanan tak mulus, akhirnya saya tiba di Aceh. Daerah Istimewa Aceh. Yay!

Bagi saya, Aceh menyimpan keluguan, keanggunan, dan misteri yang luar biasa. Seperti tak terbuka. Tak ada cerita. Menyimpan rapat keindahan untuk dirinya sendiri. Misterius gitu. 😀 Maka ketika saya akhirnya menjadi pemenang #NescafeJourney dan berhak untuk jalan-jalan bersama aspirer saya, Imam Darto, kebahagiaan menyeruak karena saya akhirnya akan menginjakkan kaki di daerah istimewa ini.

Satu hal yang saya kenal dari Aceh. Aceh punya Polisi Syariah.
Menjadi provinsi dengan sebutan Serambi Mekah, Aceh ternyata ketat dan lugas dalam menjalankan apa yang ia anggap layak dan benar. Saya sudah bersiap? Oh sudah pasti! Sampai niat beli kaos lengan panjang! *walaupun kemungkinan besar sekembalinya dari Aceh lengan itu kaos akan saya potong..hihihi*
Aceh1
Hari ini, hari pertama saya di Aceh pun saya sudah mempersiapkan pakaian saya dengan baik. Celana panjang (melambaikan tangan ke celana pendek), kaos (masih pakai lengan pendek dulu), cardigan (jadi lengannya panjang kan?), dan pashmina sebagai kerudungnya. Siap tempur! Siap mengitari Ac… “HEY!!”
*melongo*
Baru saja ada yang bentak saya dan Iffa yang lagi jalan mengitari Masjid Raya Baiturrahman.
“HEY!!” – bentakan yang sama. Saya dan Iffa berbalik badan. Menghadapi seorang petugas keamanan dengan alis menyureng judes.
“Jklkifhwefnkbcjb”, petugas keamanan itu berbicara dengan cepat, tanpa gerakan mendekati kami. Logat Acehnya kental; saya dan Iffa sama-sama tidak menangkap apapun perkataannya.
“Apa, Pak?”, saya mendekat.
“Jeubclkshcknfwi”, oke, masih nggak menangkap perkataannya nih!!
“Apa, Pak?”, saya dan Iffa makin mendekat.
Petugas keamanan itu masih berbicara sambil menunjuk ke arah saya dan Iffa.

“Nggak boleh motret, Pak?”, tanya saya. Beberapa tempat ibadah memang tidak boleh dipotret; tapi saya orang yang cukup aware dengan peraturan itu – jika ada, tapi tadi saya tidak melihat tanda dilarang memotret.

“TIDAK BOLEH PAKAI CELANA INI MASUK MASJID!! SAYA SUDAH LIHAT DARI TADI, SAYA PIKIR MAU KE LUAR, TERNYATA MALAH MEMUTAR!! TIDAK BOLEH!! KELUAR!!”

Saya dan Iffa bengong. Kalau kata anak Twitter, kami sedang dalam masa ‘siyok’! Kami bertatapan sebentar kemudian petugas keamanan itu membentak lagi, “KELUAR!!” sambil tangannya menunjuk jauh ke atas! Ayasalam, ini benaran! Bukan sinetron? Benar terjadi? Kami diusir dari komplek masjid ini! JRENG! *zoom in – zoom out – zoom in – zoom out*

Saya dan Iffa langsung berbalik, keluar dari area masjid lalu mengambil jalan memutar ke pintu masuk lagi via pasar. Iffa shock berat. Saya masih bengong. Hahaha.

Jadi benar kami diusir dari masjid ini? Yampun, apa kata anak cucu kami nanti??

Di pintu masuk, kami bertemu dua anak muda (perempuan) Aceh yang palai celana lebih ketat dan lebih pendek dari saya dan Iffa. Kami bertanya apa mereka juga tidak diperbolehkan masuk masjid? Mereka jawab, “Boleh..” Lah bagaimana ini? Double-standard! Huhuhu.. *goyang-goyang bahu bapak tadi*

What can I get from this experience?

Ternyata, informasi (yang memang hanya sedikit) yang saya dapat dari internet tentang bagaimana harus berpakaian di Aceh tidak selamanya dapat dipercaya. Berpakaian di Aceh tidak hanya harus tertutup atas bawah, tapi lebih dari itu, tidak ketat, tidak membentuk tubuh (dan mungkin ‘tidak-tidak’ lainnya). Jadi paling aman pakai apa?

Paling aman pakai rok panjang dengan atasan gombrong plus hijab! OKESIP!! :))

Aceh2

Terima kasih untuk bentakan di hari pertamanya ya Aceh. Walaupun dibentak-bentak lagi (oh tapi semoga tidak!), saya tetap nggak sabar menikmati setiap jengkal keindahan yang kau tawarkan! Ihiy!

PS: Saya masih suka terkikik kalau ingat Mas Once – fixer yang ikut pergi bersama kami – menirukan Iffa yang mimbik-mimbik shock, berdiri di samping pintu masuk sambil memakai mukenanya. Dan lebih lucu lagi karena Iffa keukeuh nggak mau buka mukenanya bahkan saat dia sudah selesai salat karena trauma dibentak tadi. 🙁 Kasian Iffa.. *peluk kencang*

Saya sendiri bagaimana?

Ya kaget tapi ya sudah, melenggang lagi saja.  Hihihi. *salam damai*

Senyum dulu ah.. 🙂

Related Posts

8 Responses
  1. Kalau memasuki kompleks Masjid Raya Baiturrahman untuk perempuan memang tidak boleh pakai celana. Tapi pernah juga sih istri saya masuk ke sana pakai celana jeans gak apa-apa tuh. Pas lagi beruntung nih berarti kalian ketemu sama petugas keamanannya 😀

  2. saya mau ke banda aceh kak bulan juni ini, meski pake jilbab tapi katanya masuk mesjid ini gak boleh pake celana padahal saya gak suka pake rok, tapi barusan temen berkunjung ke masjid Baiturrahman banyak pake yg ketat boleh masuk, jadi khawatir klo aturan tidak standar. belum lagi perempuan gak boleh keluar malam batas jam malamnya jam 10 malem tapi dapet info kalau kedai kopi buka abis sholat tarawih nah kan jadi bingung gimana wisata di banda aceh ini

    1. Hihihi. Suka-suka mereka lah penerapan aturannya kayaknya. Amannya si memang pakai rok lebar ke Baiturrahman ya. Yang cewek pakai legging aku temuin itu, dia pakai rok lebar selutut dulu baru dalamnya pakai legging. Dibolehkan masuk. Tapi mungkin juga itu karena dia orang sana. Hihi.
      Kalau keluar malam, mendingan jangaaaan. Hehehe

      1. Anak Aceh

        Kalau untuk perempuan keluar malam diperbolehkan kok, banyak perempuan di duduk di cafe2 tpi kebanyakan jam 10 malam udah balik. Tapi ada juga yg keluar diatas jam 10 kebanyakan sama keluarga atau sama temen2nya. Klo keluar sendiri mutar2 diatas jam 10 lebih baik jangang karena gak enak dilihat org walaupun di Aceh itu aman2 saja, jarang ada kriminal. Karena semua diatur demi Aceh lebih aman dan nyaman. Perempuan itu sangat di jaga di Aceh. Untuk tempat wisata mgkin bisa di lihat di ig @wisataaceh

Leave a Reply