Puasa Instagram

Milo et Moi
 

“Kamu tumbuh ya. Yang subur, yang sehat. Jangan menyerah.. Kuat kuat sampai nanti waktu panen ya..”, saya berbicara sambil menghadap sebuah pot berisi tanah yang masih nampak rata. Iya, saya berbicara ke benih tanaman yang baru saja saya tanam. Hihihi.


Berkebun/bercocok tanam adalah satu kegiatan yang AKHIRNYA bisa saya lakukan. Dari dulu sebenarnya ada keinginan berkebun tapi:

  1. Geli memegang tanah
  2. Takut sama cacing
  3. Pusing duluan dengan segala perhitungan unsur hara, pupuk, sekam, cocopeat, stek, benih, dlsb!!
  4. Ribet soal organik non organik, hidroponik, akuaponik, tektonik, poliponik, semua nik lah wkwk
  5. Takut gagal

Iya, takut gagal. Layu sebelum berkembang, kalah sebelum berjuang. Rung dimulai wis takut duluan, rung rabi wis meteng duluan. EH KENAPA SIH, RENCANG-RENCANG?!

photo-hunting-fujifilm-xt100

Otapi itu semua kini tlah berubah (kayak lirik lagu ni?!) dan terima kasih tak terhingga saya ucapkan untuk pemerintah serta rakyat Indonesia, dalam hal ini kampret dan cebong, karena dengan dukungan mereka lah, saya bisa mulai berkebun. Hihihi.

Jadi, pada masih ingat nggak sih bulan Mei lalu saat pemerintah negara berflower ini mengambil langkah pembatasan penggunaan media sosial setelah ramai dan riweuh pemilu? Siapa hayo yang saat itu kesal dengan pembatasan ini? Nah saat itu kejadian dan banyak yang kesal, saya memilih haha hehe saja menerima. Karena apa? Karena saya orang Jawa, nerimo adalah prinsip hidup saya. Halah. Wkwkwk.

On a serious note, ya karena kesal-kesal juga mau apa lha wong nggak akan mengubah keadaan jadi ya sudah terima saja. Hehe. (Alhamdulillahnya, pas bulan puasa kejadiannya, yang mana Limasan memang lagi sepi jadi soal kerjaan aman, hati pun tenang, hehehe).

Selama beberapa hari saya nggak perlu buka Instagram (karena ya ngapain juga dibuka lha wong nggak bisa og) dan sengaja nggak download VPN karena saya pikir, sejalan dengan bulan puasa, ini adalah saat yang tepat untuk saya ikutan puasa! Puasa Instagram! Hehehe.

Sehari dua hari, hey, ternyata saya baik-baik saja hidup tanpa Instagram! Saya jadi punya waktu lebih untuk melakukan hal lain yang menarik minat.

BELAJAR TENTANG NATURAL/ECO-FRIENDLY LIFESTYLE

Media sosial Instagram (serta Facebook dan Whatsapp) dibatasi tapi Youtube dan Twitter lantjar djaya! Hihi. Beralih deh saya! Tadinya cuma buka Youtube demi melihat konten makeup eh jadi coba-coba browsing konten lainnya yang menarik hati. Salah satunya pembelajaran tentang eco lifestyle dan natural lifestyle.

Man!! I sound so serious. Wkwkwk.

Saya jadi belajar buat conditioner dan body butter sendiri, pakai bahan-bahan alami. Efek conditionernya ke rambut saya oke lho, jadi caem begini. Hihihi. (Please fokus ke rambut saya, tidak ke Milo!)

maine-coon-milo

Downsidenya, sempat dua hari setelah melahap banyak sekali video Youtube tentang natural lifestyle, I had this urge of extreme changing dan jadi stress sendiri!! Pengennya langsung mengganti semua produk yang saya pakai jadi produk buatan sendiri dan natural. Wagela!! Wkwkwk.

Di hari ketiga, saya sampai di satu kesimpulan:

There’s no way I can change my lifestyle to both natural and eco-friendly AT THE SAME TIME!

Utopis sekali melakukan dua konsep ini berbarengan untuk awal perubahan gaya hidup.

Pada akhirnya, saya bilang ke diri saya sendiri, “Pelan-pelan, Bulan. Satu-satu. Pilih satu konsep dulu untuk dijalani.” dan saya memilih konsep natural lifestyle untuk awal. Baru nanti insyaallah pelan-pelan merambah menjadi tidak hanya natural tapi juga lebih eco-friendly. ‘Lebih’, karena sesungguhnya sudah ada beberapa hal ramah lingkungan yang saya lakukan. Hal-hal mudah yang bisa diswitch dari kehidupan sehari-hari tanpa mengurangi kenyamanan. Apa saja? Saya sertakan tautan ke tulisan saya tentang ide ramah lingkungan di bawah ya, bisa lanjut dibaca setelah selesai baca tulisan ini. 😉

 

MULAI BERCOCOK TANAM

Selain browsing video natural lifestyle, saya juga sekalian browsing video-video tentang bercocok tanam. Goalnya satu: menemukan cara bercocok tanam anti ribet. Hahaha. Setelah melahap belasan (atau puluhan) video – yang mana saya jadi baru tahu BANYAK SEKALI orang India suka bercocok tanam dan buat video di Youtube << dan ini bikin saya ketawa sendiri karena ngerasa kayak, ‘Yaelah, samudera telah ku arungi, hutan ku jelajahi, lautan ku seberangi, ketemunya orang India lagi orang India lagi’ wkwkwk – akhirnya dengan bekal pengetahuan ini, saya gamit lengan Widi untuk ke Pasty.

Pasty adalah singkatan dari Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta. Sesuai namanya, memang ada dua zona di pasar ini, zona satwa dan zona tanaman hias. Di zona satwa, isinya ada ikan hias, ikan ternak, maupun ayam, dan keperluan perhewanan lainnya. Di zona tanaman hias, isinya ada….WAIT FOR IT…

Tanaman.

Ya menurut ngoni.. Hihi.

Pedagang di Pasty itu luar biasa ramah-ramah deh saya suka. Mereka menawarkan koleksi tanamannya dengan ramah dan sopan, nggak ada ngojog-ngojogin orang harus beli di tempatnya gitu. Dan saya suka bagaimana mereka membuat saya tidak merasa kecil padahal baru mau belajar bercocok tanam.

“Saya tu baru mau mulai nanam-nanam, Pak. Takut gagal dan membunuh tanamannya saya tu, Pak.”, nggak tahu kenapa pas belanja sambil curhat. Wkwk.

“Ya jangan takut. Gagal itu biasa. Namanya juga belajar. Kalau gagal ya tinggal beli lagi aja (tanamannya).” sahut Bapaknya santai.

Eh ya, benar juga sih.

Walaupun pada intinya tidak semudah itu karena saya berpegang teguh pada fakta bahwa tanaman tu makhluk hidup jadi jika sampai mati itu artinya saya telah membunuhnya, tapi Bapak Penjual tanaman itu has a (simplified) point!

Lalu yang lucunya, soal media tanam itu saya sudah belajar komposisi yang standar. Dengan bekal ilmu yang saya dapat, berkatalah saya penuh percaya diri ke Bapak Penjual, “Pak, beli tanah, pupuk, dan sekam bakar ya. Masing-masing satu karung.” Bapaknya iya iya aja. Tapi kemudian ada pertimbangan lain: saya dan Widi ke Pasty naik motor, kami nggak yakin bisa membawa tiga karung plus beberapa pot tanaman dengan aman.

Di tengah pertimbangan maha serius, Bapaknya dengan santainya bilang, “Ya atau beli satu karung saja dulu, Mbak.”

Saya, dengan bekal komposisi media tanam anti gagal dalam pikiran saya, langsung sewot, “Lah satu karung gimana, Pak? Pupuk dan sekamnya bagaimana?”

Bapaknya masih menjawab dengan santai, “Satu karung saja cukup kok, Mbak.”

“Satu karung bagaimana sih, Pak??”

“Satu karung ini saja. Mbaknya mau nanam rosemary saja kan? Satu karung saja cukup.”

“Ya tapi pupuk dan sekam bakarnya bagaimanaaaa?”

“Oh ini satu karung isinya sudah tanah, pupuk, dan sekam bakar, Mbak.”

HAH HAH BAGAIMANA?

JEBUL WIS ONO MEDIA TANAM SING READY, GENG! KOMPOSISINE PERSIS KARO KOMPOSISI STANDAR SING TAK PELAJARI. WIS KARI SEROK! Hahaha..

Jadilah pulang-pulang saya menanam bawang merah dan memindahkan rosemary yang saya beli ke pot bekas yang ada di Limasan. Eh nagih! Setelahnya saya beli Zodia, Monstera Janda Bolong (since, yknow, that name carries my status kan), dan Mama beli mint yang kemudian saya stek. Uwuwuw. Senang!

bercocok-tanam-di-rumah

Bercocok tanam tu kayak ngasih ketenangan buat saya. Aneh, I know, tapi kayak senang saja melihat benih/stek yang saya tanam bertunas dan bertumbuh dan melihat tunasnya menyeruak dari tanah. I grow a new life!!

Tanaman bawang saya tumbuh subur. Hampir setiap hari saya ajak ngobrol, menyemangati dia untuk terus tumbuh dan semakin kuat. Rosemary saya kemarin hampir mati (ya ampun saya hampir jadi pembunuh) eh hari ini alhamdulillah lebih sehat, daunnya menghijau kembali. Senang lihatnya. Stek mint saya sudah berdaun satu. Lumayan. Zodia saya berbunga banyak sekali. Monstera saya kok begitu-begitu saja. Wkwk.

Jadi nggak takut pegang tanah dan nggak geli sama cacing lagi, Lan?

LHO YA MASIH!!

Tapi saya pakai sarung tangan jadi intinya tangan saya nggak langsung kena tanah. Wkwkwk. Kalau ada tanah masuk ke dalam sarung tangan, saya masih bergidik dan langsung lepas sarung tangan lalu cuci tangan lalu kalau mau lanjut nanam, pakai sarung tangannya lagi. HAHAHA.

Kemarin sempat ngebongkar tanah dari pot lama eh ada cacingnya besar sekali, saya loncat geli dan menjauh. Sampai sekarang tu tanah nggak saya pakai. HAHAHA. Padahal adanya cacing tu tanda tanahnya subur ya.

home-gardening

Ternyata puasa Instagram tu lumayan berfaedah bagi saya. Hidup terasa lebih ringan. Waktu dalam sehari terasa cukup.

Sampai sekarang masih puasa Instagram? Well, masih nggak masih. Instagram inti yang muncul saat saya buka app-nya itu akunnya Sikoperkuning, akun saya pribadi masih saya idle, belum ada keinginan saya isi lagi. Hihi. DM sih kadang saya buka kok, apalagi kalau DMnya isinya woro-woro produknya Sikoperkuning. Ya maklum ya, sini masih mau jualan demi tambahan uang untuk mbayar cicilan. Wkwk. Kembali ke prinsip ‘apa yang cuan, saya lakukan’ maka kalau ada yang post produknya Sikoperkuning ya saya repost doooong. Saya gitu loh! Hahahaha.

Senyum dulu ah.. 🙂


BACA JUGA:

  1. Ide Ramah Lingkungan Ala Saya
  2. 5 Tips Mengatur Keuangan
  3. Jalan-jalan ke Banyuwangi

Related Posts

9 Responses
  1. Saya puasa instagram sudah lebih dari setegah tahun malah….ahaha
    Saya juga beberapa bulan terakhir lagi kulakan banyak bibit tanaman dari Tiongkok, disemai di rumah, biar nanti dirawat sama Ibu yang sudah mau memasuki masa pensiun.
    Wah kalau sudah kelar bercocok tanam, mau nerapin lifestyle berburu dan meramu kah? Hihihih

      1. Sementara baru beli tanaman hias aja, kayak bibit kaktus, bunga2an sama bambu2an, ahaha gak hafal nama tanamannya apa, cuman apal macemnya aja.
        Eh, ada lagi sih, stevia, pengganti gula tebu,,,

Leave a Reply