Tantangan: 7 Hari Thailand 5 Juta Rupiah

Naik Motor di Thailand

“Gak buka jastip, aku nggak beli bagasi. Hahaha.” saya membalas komentar di Instagram @sikoperkuning.

“Eh tapi nggak tahu sih bisa atau enggak gak beli bagasi hahahaha.” lanjut saya, meragukan (kemampuan menahan diri) diri sendiri. Wkwk.


Saya ni sedang didera kebosanan. Bosan jalan-jalan.

Serius, ternyata ada kebosanan semacam itu. :'(

Sebenarnya bukan jalan-jalannya yang bikin bosan karena saya tetap rindu bepergian; tapi cara jalan-jalan saya saja yang – karena terus dilakukan dengan cara yang sama – jadilah membosankan. Huft.

jalan jalan di thailand

Apalagi sejak suka buka jastip A.K.A jasa titip. Jalan-jalan yang intinya menyegarkan pikiran jadi kayak kerja saja, kepikirnya bisnis terus. No fun. Walaupun, setelah jalan-jalan senang terima transferan :p tapi, duh, saya kehabisan waktu untuk menyenangkan diri sendiri karena mengurusi pesanan orang.

Maka ketika merencanakan kepergian ke Thailand kemarin, saya mencoba melakukannya dengan cara yang berbeda: memberi tantangan untuk saya usahakan penuhi. Usahakan ya, karena saya juga nggak mau dibatasi dan merasa bersalah ketika misalnya, pada akhirnya, tantangan tidak terpenuhi, jadi ya, yang penting sudah usaha saja. Hehehe.

TUJUH HARI JALAN-JALAN DI THAILAND DENGAN UANG LIMA JUTA RUPIAH.

Bisa, bisa?

Well, it defo sounds easy to some people tapi saya set tantangan lain selain lima juta ini yaitu tidak mengurangi apa-apa yang bisa membuat jalan-jalan saya aman dan nyaman.

Saya nggak mau jadi harus kasihan selama trip hanya untuk menekan biaya serendah-rendahnya. Saya nggak mau makan mie instan setiap hari hanya biar uang saya cukup tapi itu berbahaya bagi kesehatan. Saya nggak mau merelakan nggak berkunjung ke elephant sanctuary karena biayanya mahal demi nggak off-budget. Saya nggak mau hitchhiking untuk perjalanan gratis tapi nggak efisien dari segi waktu. Bahkan saya nggak mau pura-pura jadi warga lokal demi nggak bayar biaya tiket masuk *sledet Alid*

Sadar nggak sadar, setiap pejalan yang jalan-jalan ke luar negeri, menurut saya, membawa nama bangsa. Saya nggak mau menyusahkan diri, orang lain, apalagi mempermalukan bangsa dan negara saya karena keegoisan saya sendiri. UHUK!! *senyum-senyum ke yang melebihi batas tinggal di Arab Saudi hingga kena denda 110 juta rupiah dan minta pemerintah bayarin*

Jadi bagaimana perjalanannya kemarin? Tantangan berhasil dipenuhi?

TENTU SAJA, MARIMAR!! (well, lebih Rp44.000 sih tapi ya anggap aja berhasil wkwk).

Total pengeluaran saya selama delapan hari di Thailand tu THB6812 (lihat catatan pengeluaran di bawah). Dengan nilai tukar Rp467 per 1 baht jadi total uang yang saya habiskan adalah Rp3.181.204. Ini pengeluaran selama di sana saja ya; dengan tiket, perhitungannya jadi seperti berikut ini:

screenshot_20190715-100821_sheets-013170296091008103194.jpeg

HOREEEEE…

Ini yakin sudah semuanya, Lan? Jajan gak sih? Nggak nyobain Thai Massage ya? Nggak belanja ya? Makannya street food terus ya?

Wagela, saya sudah nyiapin kemungkinan pertanyaan nyinyir dari netizen budiman banget yekan. Wkwk.

Kembali ke persyaratan tambahan yang saya tetapkan sebelum pergi jalan, saya tidak mau mengurangi kenyamanan saya jalan-jalan jadi silakan lihat skema di bawah untuk pengeluaran PER HARI saya dan lihatlah senyum saya di bagian Thai Massage (2 kali!), makan di resto (1 kali), makan di bandara (2 kali) dan ikut program tur Elephant Sanctuary (yang harganya hampir sejuta sendiri) itu. Hihihi. (Click to enlarge ya)

 

20190715_104903

Segala mamam esgrim Swensen dong ai, nostalgia zaman tinggal di Kelapa Gading, ngeliat Swensen kayak WAH banget hanya orang-orang kaya yang bisa ke sana.

Alhamdulillah, saya kini sudah kaya, jadi boleh ke Swensen. *raup muka dengan takzim*

Perjalanannya menyenangkan nggak walaupun dengan bujet terbatas?

MENYENANGKAN!!

Walaupun demikian, saya merasa perjalanan ini menjadi lebih menyenangkan dan aman karena saya tahu saya siap dengan spare budget. Saya hanya membawa uang tunai THB6420 (Thailand SIM Card serta Elephant Jungle Sanctuary Program saya pesan via Klook, Bus Chiang Mai ke Chiang Rai saya pesan via 12go.asia, ketiga item ini dibayar dengan kartu kredit) tapi saya punya spare another 4 mio di kartu debit yang saya bawa, selain juga saya bawa kartu kredit yakali-kali nggak bisa tahan diri mau belanja. Wkwk.

Tapi sampai akhir perjalanan, Puji Tuhan, kartu debit maupun kartu kredit saya tidak dipakai sama sekali, BUT, always remember..

It’s good to have a spare budget when you go traveling. It eases your worry for any what-ifs.

Apa yang didapat dari ngasih tantangan ke perjalanan yang dilakukan?

Yang pasti, saya jadi belajar banyak sekali hal baru yang sebelumnya nggak kepikiran.

1. Belajar Atur Prioritas dengan melihat VALUE

Saya pilih pick-up SIM Card di Siam Center karena beda Rp13.000 sama pick-up di bandara Don Mueang Bangkok, tapi saya lupa perhitungkan value lain dari beda Rp13.000 itu.

Kalau saya pick-up SIM Card di bandara Don Mueang Bangkok, saya sudah bisa terhubung ke internet dari pas mendarat – yang berarti, saya bisa memilih transportasi ke penginapan dengan lebih bijak (see poin pembelajaran kedua setelah ini). Selain itu, saya mempertanyakan logika saya sendiri saat harus jalan kaki 2,3 km dari penginapan ke Siam Center di malam hari ditemani rintik hujan yang bikin deg-degan serta badan yang sudah lelah dari perjalanan seharian: Does it worth Rp13.000 cheaper option?

NO!!

So yeah, selalu kedepankan VALUE dibanding nominal! Hihihi.

baht uang thailand

2. Riset, riset, riset untuk Strategi Transportasi yang lebih tepat

Saya sudah melakukan riset sebelum perjalanan, tapi saya belajar bahwa ternyata riset yang saya lakukan bisa kurang juga. Dengan (so-called) pengalaman ke Bangkok yang sudah beberapa kali, saya jadi anggap remeh riset soal transportasi dari dan ke bandara padahal ini kali pertama saya ke Bangkok dengan mendarat di (dan kemudian terbang lagi dari) Don Mueang.

Saat mendarat, saya ambil opsi transportasi bus A1 sampai Mo Chit lanjut BTS Mo Chit – Phaya Thai lanjut Airport Express Phaya Thai – Ratchaphrarop (penginapan saya dekat stasiun Ratchaprarop) setelah itu jalan kaki ke penginapan. Di hari kedua saat saya harus kembali ke bandara, saya belajar strategi baru yaitu naik bus A3 dari Pratunam (yang mana jalan kaki cuma 700 meter dari penginapan saya) dan JRENG, sampai di bandara Don Mueang! Hahaha.

Kenapa pas mendarat nggak ambil bus A3 alih-alih A1? Karena Mbak-mbak di konter informasi nggak bisa menjelaskan bus A3 akan berhenti di mana yang dekat penginapan saya dan saya nggak mau ambil risiko (karena saat itu nggak terkoneksi dengan internet juga). TAPI, ini bukan salah Mbak-mbak konter informasi juga karena kalau saya siap dengan hasil riset yang cukup, saya harusnya bisa tahu soal ini lha wong strategi hari keduanya juga saya dapat dari riset di internet kok. Jadi ya sudah, salah saya kurang riset. Hihihi.

doi-suthep-view

3. Belajar Menahan Diri

Saya lagi coba hidup lebih ramah lingkungan dan satu poin yang ingin saya ubah dari gaya hidup saya selama ini adalah beli ini itu hanya karena barangnya lucu. Wkwkwk. Di perjalanan ini saya belajar menahan diri nggak belanja barang-barang lucu dan mencari kebahagiaan lain selain dari beli ini itu.

Saya ingin beli celana jeans gemas lucu-lucu yang selalu jadi godaan setiap saya jalan ke Thailand tapi saya pikir lagi, celana jeans gemas saya sudah banyak kok, ngapain beli lagi? Saya tahan diri.

Sehari setelah mengunjungi Chiang Rai Walking Street Bazaar dan lihat ada celana tidur dijual THB100 dapat 3, saya kepikir mau beli karena toh celana tidur saya sudah berusia dua tahun dan yang saya pakai tidur selama dalam perjalanan ini sudah mulai merenggang serat kainnya (baru tahu pas di sana juga) jadi bisa lah celana tidur saya diganti, saya bawa pulang celana tidur baru.

Eh tapi memang nggak direstui belanja barang kali ya, celana tidur THB100 dapat 3 sudah nggak ada dong saat saya berkunjung ke Chiang Rai Night Bazaar keesokan harinya (Chiang Mai Walking Street Bazaar cuma ada di hari Sabtu) jadi ya saya nggak jadi belanja. HAHAHA.

PS: Kalian harus tahu beratnya melihat sebuah toko besar bernama Chiang Mai Cosmetics mengawe-awe di depan mata menggoda ‘Yakin nggak mau buka jastiiipppp?’ gitu ke saya. Berat banget! :/

chiang-mai-cosmetics-store

4. Belajar Packing Lebih Ringkas

Saya light-packer tapi di perjalanan ini, saya belajar packing lebih ringkas lagi. Ransel saya berisi baju, celana, rok, bikini dan underwear, sandal (karena pas main sama gajah akan basah-basahan jadi disarankan pakai sandal), pouch obat dan pouch toilettries. Daily bag saya berisi jaket, topi, kamera, dompet, botol minum, pouch kabel dan powerbank, earphone, HP, tas lipat, serta printilan dokumen. Saya sempat gamang akan bawa tablet atau tidak tapi belajar dari perjalanan sebelum-sebelumnya, saya memutuskan tidak bawa dan bertahan kerja via HP saja. Bisa? Bisa!

Bisa karena terpaksa. Wkwkwk.

Dengan packing yang lebih ringkas ini, saya jadi bisa hemat nggak beli jatah bagasi. Tas ransel saya beratnya 5.4kg saat berangkat; ditambah daily bag mungkin sekitar 6,5 – 7kg. Lolos masuk kabin bahkan untuk LCC sekali pun.

coin-baht-thailand
5. Belajar naik AirAsia lagi

Sudah lama enggak naik AirAsia jadi saat kemarin naik rasanya jadi kayak anak kecil nemu mainan baru.

Jadi sadar, eh iya ya ruang kakinya kecil sekali, uh-oh, iya ya nggak ada IFE atuhlah tiga jam ngapain ya kalau nggak tidur?

But I survived!

I also survived Nok Air Bangkok – Chiang Mai btw, so: PLUS POINT! Good job, Self! 자기 토닥 토닥!

naik-bus-dari-chiang-mai-ke-chiang-rai

To be honest, ternyata perjalanan pakai tantangan begini asyik juga. I had a fresh (and light) start, a great awakening (caelah), and a good excuse to not doing something. Hihihi. Berasa banget ke sana ke mari enteng bawa badan dan ransel tujuh kilogram doang. Hihihi. Jadi makin bangga sama diri sendiri.

Akan punya tantangan di perjalanan berikutnya? Inginnya iya, tapi belum tahu tantangannya apa. Hihihi. Kali-kali ada yang mau sumbang ide tantangan selanjutnya, Rencang-rencang. Next trip: New Zealand, insyaallah..

Senyum dulu ah.. 🙂


BACA JUGA:

  1. Tujuh Tempat Wisata di Chiang Mai
  2. 5 Tips Mengatur Keuangan
  3. Jika Mati Gaya di Pesawat

Related Posts

12 Responses
      1. Pikiranku, itu mbak Bulan bawa tas kecil warna ijo? Perasaan udah bawa tas punggung. Bentuknya unik kayak helm. Pas kulihat beneran, ternyata emang helm hahahhahaah
        Sukses untuk dolannya mbak,

  1. Cike

    Senyum2 pas baca 110 jt + Swensen + Bus A3 + celana tidur 100 THB…
    Bulaannn…kk jadi pengen travelling bareng kamuuuhhh 🙂

Leave a Reply