Dari Jogja ke Bromo Naik Kereta Api

14

“Kita santai aja lah, Wid. Nanti lihat pas sudah sampai stasiun aja mau lanjut naik apa.” tulis saya di pesan yang saya kirim ke Widi.

Ini saatnya, saat di mana saya dan Widi jalan bareng ke gunung dan laut. Dimulai dari mendaki Gunung Rinjani lalu ke Pulau Moyo, kali ini agendanya adalah ke Gunung Bromo, lanjut ke Gili Labak via Sumenep, Madura.

Untuk Bromo, ini adalah kali pertama bagi Widi mengunjunginya, dan kali kedua bagi saya.

***

Bagaimana cara ke Bromo dari Yogyakarta?

Pertama, tentukan dulu, mau ke Bromo via mana. Ada dua pintu masuk menuju Bromo yang saya tahu yaitu via Malang atau via Probolinggo. Kami masuk via Probolinggo karena mau menginap di Cemoro Lawang.

Rutenya, dari Yogya, kami naik kereta menuju Probolinggo. Pesan tiket kereta via Tiket.com, ini bukan endorsement tapi saya sudah beberapa kali ditanya, “Kak Bulan kalau pesan tiket kereta online gitu lewat mana?”. Ada banyak aplikasi tiket kereta api diluaran sana, jadi ya baiknya saya sebutkan saja di sini. Hihihi.

INTERMEZZO

Ada yang pernah nanya, “Pesan tiket kereta online di mana?”, sudah saya jawab eh pertanyaan berlanjut ke, “Kalau dari Jakarta ke Jogja itu keretanya ada jam berapa aja sih, Kak?

Subhanallah… *nangis di pelukan Saba—salah satu kondektur KAI yang ganteng—Itu dibuka dong OTA-nya, Maneeeh!! Diketik stasiun keberangkatan: Jakarta; stasiun tujuan: Yogyakarta, isi tanggal berangkat dan pulangnya, nah kejembreng deh tu ya pilihan nama keretanya apa saja, jam keberangkatan berapa saja, sampai ke pilihan kelas ekonomi — bisnis — eksekutif lengkap bisa pilih kursi pula.

Grrr..

INTERMEZZO CURHATAN SELESAI

Stasiun Yogyakarta
Stasiun Yogyakarta

Kereta dari Yogyakarta ke Probolinggo mengambil waktu sekitar delapan jam. Pakai acara transit dan berhenti di Surabaya selama tiga puluh menit. 😅 Dari semangat, ngantuk, nonton drakor, tidur, dengar musik, makan, nonton drakor lagi, ngantuk, tidur lagi, bangun, kok ya belum sampai-sampai juga. Wkwk. Berangkat pagi sekitar pukul sepuluh dari Yogya, sampai Probolinggonya lewat pukul enam sore.

Untung kereta Indonesia sekarang sudah nyaman, jadi nggak terlalu capek delapan jam di perjalanan. 😀

Sampai di Stasiun Probolinggo, kami sebenarnya belum tahu mau naik apa. Bisa sih minta jemput pihak penginapan, sudah tanya juga opsi ini, dan jreng mahal banget biayanya, tiga ratus lima puluh ribu!! Huhuhu. Melebihi bujet. 😭

Akhirnya kami berpikir mau naik ojeg aja dari depan stasiun eh lha kok memang ya, rejeki anak nggak soleh-soleh amat, ternyata ada angkutan elf yang mengarah ke Cemoro Lawang dari depan stasiun.

Saat kami turun dari kereta, sudah ada Mbak dan Mas yang awe-awe tulisan “Cemoro Lawang” dan saat kami tanya angkutan elf ini akan mengantar sampai ke mana, ternyata bisa antar sampai ke penginapan! Haleluya! Langsung naik ke dalam elf sambil kibar-kibar lima puluh ribuan. Hihihi. Lumayan menang banyak!

Perjalanan Probolinggo – Cemoro Lawang ditempuh dalam waktu lebih kurang dua jam. Melewati kota Probolinggo lalu ke desa di pinggir kotanya kemudian jalan mulai meliuk dan menanjak sebelum akhirnya sampai ke Cemoro Lawang.

Kami sampai Cemoro Lawang sekitar jam sembilan malam. Gila dah, rasanya macam ingin langsung loncat ke ranjang (((RANJANG))) tapi karena semangat banget (dan lapar) yang ada kami malah jadi on lagi pas sampai penginapan. Hahahaha.

Sempat makan nasi goreng dulu malam itu, lalu bebersih dan akhirnya tidur karena pukul tiga pagi keesokan harinya, kami akan dijemput jeep untuk lihat sunrise. Ahey!

Naik Jeep di Bromo
Naik jeep di Bromo

Untuk pulangnya bagaimana? Kalau pulang dengan rute kebalikan berangkat ya tinggal dibalik saja urutan angkutannya. Naik elf sampai Probolinggo lalu lanjut naik kereta ke Yogyakarta.

 

Sedikit tips

Kalau mau pulang naik elf yang sama dengan yang dinaiki pas ke Cemoro Lawang, pesan dulu minta dijemput dan minta nomor supir elf-nya saat mengantar ke Cemoro Lawang. Satu hari sebelum kepulangan, konfirmasi ulang ke supir untuk jam dan titik penjemputan.

Kalau nggak mau naik elf yang sama dan mau opsi lebih hemat lagi, dari Cemoro Lawang ada kok elf yang kayak angkutan juga tapi keadaannya agak menyedihkan dan kayaknya nggak ber-AC. Elf yang saya tumpangi ber-AC dan keadaannya jauh lebih  sedap dipandang. Wkwk. Nggak tahu juga sih elf yang angkutan dari Cemoro Lawang ini mengantar sampai mana.

Elf-nya saya (cieee elf-nya saya) tidak bisa mengambil penumpang langsung dari Cemoro Lawang ya, makanya harus Whatsapp untuk konfirmasi dulu. Elf itu hanya bisa menjemput langsung ke penginapan untuk yang sudah konfirmasi minta jemput saja.

Kemarin saat elf saya datang, ada sekelompok wisatawan asing yang bertanya ke saya apa mereka bisa ikut elf yang menjemput kami itu. Saya tanyakan ke supir elf-nya dan ternyata nggak bisa karena elf yang saya tumpangi itu nggak bisa ambil penumpang sekenanya, nggak enak sama elf angkot dari Cemoro Lawang itu. Jadi kalau nggak pesan dulu, ya sudah pasti nggak bisa naik elf yang saya tumpangi itu. Sayang banget kan nggak bisa naik elf yang sama dengan yang saya naiki.

YHA~

Di perjalanan kemarin, saya dan Widi tidak langsung kembali ke Yogyakarta melainkan ke Sumenep, Madura, dulu. Jadi dari Cemoro Lawang, kami naik elf menuju Probolinggo lalu lanjut naik bus menuju Surabaya (Terminal Purabaya) dan lanjut lagi naik bus ke Sumenep, Madura.

Itu lebih wagelaseh perjalanannya. Mana bus dari Surabaya ke Madura sempat mogok dan kami harus berganti bus lagi. Wkwkwkw. Sungguh sebuah perjalanan yang penuh cerita. *tenggak Antimo* Dari Madura, kami kembali ke Surabaya dengan naik bus dan pulang ke Yogyakarta naik kereta lagi.

Naik kereta dari Jogja ke Bromo

Demikianlah post kali ini semoga berguna untuk yang mau melakukan perjalanan dari Jogja ke Bromo via Probolinggo. Kurang dari 1000 kata loh ini, saya bangga. Beginilah kalau diminta menulis yang informatif, jadi secukupnya saja. Susah. Aqutu ribet kalau nggak cuwawakan masukin cerita hidupku dalam tulisan, Rencang-rencang. Hihihi.

Senyum dulu ah.. 🙂

Related Posts

14 Responses
  1. Nggak sekalian berburu rumah-rumah warga yang kasurnya pakai pasir kah di Sumenep mbak? Oya, kalau sempat mendenagrkan dialog orang Sumenep maupun Madura lainnya, suaranya beda loh. Sumenep jauh lebih alus dibanding lainnya hahahahaha.

    1. Enggaaaaak. Baru tahu ada yang kasurnya pakai pasir malah.
      Aku kurang paham aksen Madura nih. Mumgkin karena baru pertama kali ke sana ya. Pas di sana aku bengong dulu beberapa detik setiap orang nanya (padahal nanyanya pakai bahasa Indonesia sekalipun) 😂😂

  2. Gallant Tsany Abdillah

    wagelaseeehhh.
    ternyata masih ada elf yang dari stasiun ke cemoro lawang jam segitu. mantep. soalnya katanya terakhir jam 4 sore gitu.

    1. Masih ada, alhamdulillaaaah. Padahal sudah siap-siap mau naik ojeg ajah. Kebayang kalau naik ojeg mungkin masuk angin sampai Cemoro Lawang. Hahaha.

  3. Waaaah seru ya bisa ke Sumenep, blom pernah sih ke sana. Kemarin cuma sempat mampir ke Bangkalan demi makan bebek sinjay dan jamu ramuan madurak, biar josss! ahahaha. Sempet main juga nanjak ke Bukit Cinta buat nikmatin sunrise.

Leave a Reply