Tujuh Tempat Wisata di Chiang Mai

Wat Chedi Luang Chiang Mai

“I can imagine myself living here for months or years.”

Chiang Mai yang berada Thailand bagian utara sudah membuat saya jatuh cinta bahkan sejak pertemuan pertama. Saat saya datang, suhunya panas sekali, tapi kota ini menguarkan rasa tenang dan adem di hati. Orang-orangnya ramah sopan, makanannya enak-enak, harga-harga masih masuk akal, lalu lintasnya (somehow) teratur, taman kotanya indah, kafe lucu-lucu bertebaran, jaringan internet lancar, tujuan wisata banyak dan bisa dicapai dalam perjalanan singkat naik motor. Duh duh, how can I not fall for Chiang Mai?

Saya tinggal selama empat hari di Chiang Mai dalam perjalanan kemarin, tapi seperti yang saya tuliskan di kalimat pertama di atas, saya bisa membayangkan tinggal lebih lama di sana. Dalam empat hari pun, sudah cukup banyak yang bisa dilihat di Chiang Mai. Berikut saya bagikan tujuh tempat wisata di Chiang Mai yang menurut saya pantas dikunjungi untuk yang datang kali pertama ke sana.

1. WAT CHEDI LUANG

Wat, bahasa Thailand untuk kuil atau candi, tentu jadi tempat wisata wajib kunjung kalau ke negara gajah ini, termasuk wat yang satu ini.

Berada di tengah kota tua Chiang Mai, Wat Chedi Luang wajib masuk dalam daftar tempat wajib kunjung karena desain arsitekturnya yang unik dan sejarahnya yang antik. Tidak seperti penampakan umum candi/kuil lainnya di Thailand yang megah kokoh dengan gaya modern plus detil yang rumit, Wat Chedi Luang hadir sangat sederhana tapi memesona.

Terbuat dari batu bata, Wat Chedi Luang memiliki tinggi 84 meter saat selesai dibangun di tahun 1475. Seratus tahun kemudian (1545), Wat Chedi Luang terkena dampak gempa bumi yang membuat bagian atas kuil runtuh, menyisakan ketinggian 60 meter saja. Tapi sudah kehilangan ketinggian dua puluh meter lebih pun, reruntuhan Wat Chedi Luang mampu membuat saya ternganga saat pertama melihatnya. GEDE BANGET, RENCANG-RENCANG!

Yang juga unik dari Wat Chedi Luang, ada beberapa pos di sekitar reruntuhan di mana pengunjung bisa mengobrol dan bertanya ini itu (khususnya tentang ajaran Buddha) kepada biksu (mungkin juga biksuni).

2. CHIANG MAI NIGHT BAZAAR

Apalah ke Thailand tanpa berkunjung ke Night Bazaar yekan. Hihi. Chiang Mai juga punya night bazaarnya sendiri. Besar pula tempatnya!

Terbagi ke dalam dua area: area luar (di trotoar) dan area dalam (di dalam gedung), di area dalam bagian tengah Chiang Mai Night Bazaar lah saya bercokol makan pad thai sambil lihat pertunjukkan tari. Hehehe. Yang jual baju ada juga? BANYAK!!

Dari makanan, baju, celana, sarung, suvenir, lampu hias, hingga jasa pijat ada di Chiang Mai Night Bazaar. Sayang saya lagi menjalankan tantangan (yang saya buat sendiri), jadi nggak bisa belanja apa-apa. Tapi kalau pulang dari Chiang Mai Night Bazaar bawa belanjaan banyak dan atau capek jalan kaki kembali ke penginapan, tenang, naik songthaew atau tuktuk saja. Banyak sekali songthaew dan tuktuk mangkal di depan Chiang Mai Night Bazaar. Tinggal pilih mamang yang wajahnya ala Mario Mauer lalu hokya, naik segera. Wkwk. Naik songthaew di Chiang Mai THB30 saja sekali jalan dan setiap songthaew ada rutenya jadi pastikan rute songthaew mamang Mario Mauer searah jalan pulang ya.

Pulang ke penginapan.

Bukan pulang ke haribaanNya.

Astagfirullah.

3. BHUBING PALACE

Komplek istana sebagai tempat peristirahatan keluarga raja ini berada di ketinggian kawasan gunung Suthep (Doi Suthep). Saat istana peristirahatan sedang tidak dipakai oleh bangsawan, komplek ini dibuka untuk umum – walaupun, yang dibuka hanya bagian Royal Gardennya saja.

Royal Gardennya cakep banget dah! Luas, mblusuk-mblusuk, dan adem. Isinya berbagai macam bunga dan tanaman yang ditata apik. Ada kebun mawar, ada hutan dengan pohon tinggi menjulang, ada kebun pisang, banyak lah. Karena saya suka taman, jadi lama banget di sana jalan kelilingan menikmati hijau-hijau segar dan warna warni bunga bermekaran.

4. WAT PHRA THAT DOI SUTHEP

Doi Suthep adalah sebuah taman nasional berjarak 15 kilometer dari kota Chiang Mai. Di taman nasional ini, selain bisa melihat pemandangan bagus, menghirup udara segar, dan merasakan suhu yang lebih sejuk (alhamdulillah banget mengingat di kota Chiang Mainya panas ghella huhuhu), ada wat juga. Wat Phra That, namanya.

Apa yang menarik dari Wat Phra That?

Bagi saya: 309 anak tangganya! Hahaha. WAGELASEH itu melebihi jumlah anak tangga yang saya daki ketika naik ke gua batu di Malaysia! Untungnya kali ini saya naik tanpa minum vodka paginya (JANGAN DITIRU!!) dan sudah dengan bekal cukup yakni sepiring nasi dan lauk serta seporsi tumis sayur di dalam perut. Wkwk. Watnya sendiri menurut saya biasa saja, tapi pemandangan dari deck di luar watnya itu menyegarkan mata.

*Berkunjung ke Bhubing Palace dan Wat Phra That bisa dalam satu waktu karena berada di kawasan taman nasional yang sama.

5. QUEEN SIRIKIT BOTANICAL GARDEN

Ada tiga belas rumah kaca di taman ini dan taman ini menjadi taman dengan komplek rumah kaca terbesar se-Thailand. Tamannya sendiri memang luas sekali, saya bersyukur saya bawa motor jadi bisa masuk jalan-jalan di dalam komplek taman tanpa harus menunggu mobil shuttle untuk berpindah tempat.

Dari hampir semua rumah kaca saya masuki, saya paling suka yang tropical forest karena adem banget dan ada air terjunnya. Berasa di hutan Amazon!! (walaupun belum pernah ke hutan Amazon juga sih wkwk) Rumah kaca yang terbaru isinya monster plants, tanaman yang bisa HAP makan itu lho. Kantong Semar ya, bahasa Indonesianya.

Sayangnya, kurang ada penjelasan di masing-masing rumah kaca jadi ya cuma bisa menikmati pemandangannya saja tapi nggak bisa tambah wawasan tentang pertanaman yang ada di dalamnya.

Selain rumah kaca, di Queen Sirikit Botanical Garden juga bisa jalan di canopy walknya. Pertama kali jalan, ya ampun hatiku ser-seran, Rencang-rencang! Hahaha. Karena kanopinya terbuat dari besi dan los keliatan ke bawah tanpa penghalang, jadi pas jalan dan merhatiin bawah, ya Allah, banyak what-if berkeliaran di kepala. Wkwk.

*Di sepanjang jalan menuju Queen Sirikit Botanical Garden banyak tersedia restoran pinggir jalan yang juga pinggir sungai. Beberapa restoran terlihat manis dengan pondok-pondok dari bambu dipasang di kanan atau kiri aliran sungai. Saya nggak sempat makan di sana, tapi melihat dari jalan raya, sepertinya tempatnya cukup menyenangkan. (Saya tipe yang ke restoran beli suasana, jadi jangan percaya kalau saya ngomongin rasa. Taunya cuma enak, enak banget, dan nggak enak saja wkwk)

6. ELEPHANT SANCTUARY

Kalau tulisan ini berdasarkan urutan rekomendasi, Elephant Sanctuary pasti saya taruh di nomor satu. Berkunjung ke elephant sanctuary adalah satu kegiatan yang saya tahu ingin lakukan sejak membuat itinerary perjalanan ini. POKOKNYA HARUS KE ELEPHANT SANCTUARY!!

Ada banyak elephant sanctuary di Chiang Mai dan hampir semua ‘jualannya’ sama: ethical visit. Tapi apa memang benar semuanya ethical?

NO. 🙁

Jadi bagaimana tahunya sanctuary yang mau didatangi itu ethical atau enggak? Ya riset. Saya menghabiskan 1 – 2 hari riset sanctuary yang mau saya datangi dan cari tahu bagaimana book program di sana. Beruntung, satu di antara dua sanctuary yang saya yakini benar ethical membuka pemesanan programnya via Klook. Elephant Jungle Sanctuary, namanya. Saya book via Klook karena dapat potongan harga hehehe dan kalau kalian mau book via Klook juga, silakan bisa pakai referral saya << UbermoonKlook >> untuk dapat potongan harga Rp45.000.

Berkunjung ke Elephant Jungle Sanctuary itu both fun dan menambah wawasan. Sebelum peserta diperbolehkan mendekat ke gajah, kami diminta cuci tangan dulu hingga ke lengan bawah. Lalu diberikan briefing serta bekal pengetahuan umum tentang gajah termasuk penjelasan kenapa sebaiknya gajah tidak ditunggangi di bagian punggung. Setelah itu kami diajarkan cara mendekat ke gajah dan membangun interaksi. Saya masih agak takut-takut mendekat saat pertama kali, I mean, OMG they’re so big!! (Ya kalau small namanya kodok yagasi wkwk) Lalu saya mulai berbicara aja ke gajahnya sambil melihat matanya.

“Hello.. I’m sorry I may disturb you but may I caress you? You’re so big and majestic I’m amazed, can I touch your cheek and hold your trunk?”

Mungkin saya terlalu menganggap serius instruksi guide membangun interaksi dengan gajah karena setelah saya lihat-lihat, nggak ada yang ajak omong gajah kayak saya ajak omong gajahnya. Wkwk. Mana ajak bicaranya pakai bahasa Inggris lagi, padahal lagi di Thailand dan gajah di Elephant Jungle Sanctuary itu rescued elephant dari Thailand juga, who knows mereka cuma bisanya bahasa Thai. :/

Tapi setelah berbicara minta permisi dan melihat mata gajahnya, saya menangkap pemberian izin dari dia, jadi saya berani pelan-pelan mendekat dan sayang-sayang. Dari sekitar 10-an gajah di Camp 6 Elephant Jungle Sanctuary (termasuk si balita Charlie yang sukanya lari sana sini nabrak orang nggak peduli badannya lebih besar dan berat dibanding manusia), saya cuma berani pegang 1 gajah saja. Yang paling gentle, menurut saya, dan ya yang saya ajak bicara tadi. Hehehe.

7. NONG BUAK HARD PUBLIC PARK

Saya penyuka taman kota so it only makes sense saya berkunjung ke taman kota dari setiap kota yang saya datangi. Nong Buak Hard Publick Park ini menurut saya salah satu yang terbagus. Tamannya cukup besar untuk bersantai dan melakukan banyak aktivitas tapi tidak terlalu besar hingga capek jalan untuk menuju pintu keluar/masuknya. Hihihi. Saya datang di hari Jumat sore dan kelihatan banget taman kota ini benar dipakai secara efektif sama warga Chiang Mai.

Di satu sisi ada empat kelompok sedang main sepak takraw, di sisi lain ada yang sedang aerobic (pakai lagu Goyang Dumang segala dong wo mantap Goyang Dumang go internesyenel), di atas rumput di dekat danau ada yang sedang ber-acroyoga dan beberapa keluarga ada yang lagi piknik!

Mengelilingi bagian dalam taman, ada jalur lari/jalan dan banyak sekali yang pada lari atau jalan santai di situ. Di pinggir jalur lari/jalan ini ada berbagai alat olahraga dipasang, lengkap dengan penjelasan bagaimana memakainya. Yang pakai banyak? BANYAK! Sungguh hidup lah taman ini, saya suka! Di salah satu sudut ada barble dan alat latihan beban lainnya, di sudut seberangnya ada jungle gym untuk anak-anak. Di tengah belakang taman ada….wait for it….

THAI MASSAGE PARLOR! Hahahaha.

Sudah sudah, sudah tujuh ya pas sesuai judulnya Tujuh Tempat Wisata di Chiang Mai. Hehehe. Masih banyak nggak tempat wisata lain di Chiang Mai? Banyak, Rencang-rencang! Ini saya bahkan belum ke air terjun, belum ke arboretum, belum ke zoo. Uuuuuh masih banyak yang menarik!! Fix lah kali lain ke Chiang Mai mau tinggal lamaan dan explore pelan-pelan naik motor kelilingan. Hihihi.

Senyum dulu ah.. 🙂

Tonton videonya juga di sini ya..


BACA JUGA:

  1. Sadar Wisata Phuket
  2. Batu Cave Malaysia
  3. Terpukau Cepatnya Pembuatan SIM Internasional di Jakarta

 

Related Posts

12 Responses
  1. zee kurnia

    Aku pernah baca juga soal sanctuary di Thailand, dan baru tau yg ini, lucu juga ya ngasih outfit atasan kek gitu, mirip kayak kain tenun.
    Ada rencana pengen ke Bangkok tapi habis baca ini keknya ke Chiang Mai aja.

    1. Iyaaaa. Itu pakaian suku Karen, salah satu suku asli Lan Na yang hidupnya banyak bersinggungan dengan gajah dari dulu kala. Suku ini juga yang kini berupaya menyelamatkan gajah-gajah dari abusive behavior (mostly done) by human (of course 😟).

  2. Sebelum peserta diperbolehkan mendekat ke gajah, kami diminta cuci tangan dulu hingga ke lengan bawah.
    Kk Bubuy, ini cuci tangan pakai sabun atau antiseptik? btw, jadi gajahnya paham bahasa apa kk? 😉

    1. Pakai air doang, Kak Olive. Cuma diminta basuh tangan pakai air mengucur sahaja. Hihihi.
      Gajahnya kayaknya paham bahasa Inggris deh. Dia terlihat senang aku ajak bicara dan matanya gerak kerjap-kerjap melihatku, aku bahagia. Hihihi. Mungkinkah dia polyglot?

    1. Chiang Mai menyenangkan sekali. Chiang Rai banyak wisata yang menarik tapi untuk tinggal lama, aku lebih senang di Chiang Mai. Terima kasih sudah bacaaaaa..

  3. Wah aku juga Mei kemarin ke Chiang Mai, tapi ga terlalu banyak jalan-jalan karena kesana pergi kondangan. Tapi emang bener sih, kota nya enak buat jalan-jalan haha

Leave a Reply